Padi Hasil Riset Nuklir Batan Dipertanyakan – Aliansi Petani Indonesia

    VARIA.id, Jakarta – Pemandangan berbeda terlihat dalam rangkaian gerbong Kereta Listrik (KRL) jurusan Bogor-Jakarta dalam beberapa pekan ini. Bagian atas seluruh ruangan gerbong, terpampang poster iklan dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

    Bukan iklan tentang tenaga nuklir dalam pengertian senjata. Iklan tersebut menampilkan keberhasilan lembaga pemerintah ini dalam melakukan riset tenaga nuklir yang menghasilkan tanaman pangan unggul.

    Komoditi yang ditampilkan dalam woro-woro tersebut adalah padi unggulan dan kedelai. VARIA.id pun penasaran untuk mencari tahu informasi lengkapnya melalui website milik Batan.

    Dan benar, di situs ini terpublikasi secara ringkas padi hasil penelitian lembaga ini. Dalam laman tersebut dijelaskan, masalah utama yang dihadapi pemerintah dalam produksi bahan pangan terutama beras adalah semakin berkurangnya lahan sawah subur.

    Berkurangnya lahan ini antara lain dipergunakan untuk daerah pemukiman, jalan, kawasan industri, dan lain-lain. Hal inilah yang kemudian menggugah para peneliti Batan untuk melakukan berbagai ujicoba pengembangan tanaman pangan.

    Melalui implementasi teknik nuklir, Batan telah melakukan rekayasa genetika pada tanaman padi.

    Dalam website tersebut diinformasikan, bahwa teknik nuklir memang dapat digunakan untuk rekayasa genetika tanaman dan menghasilkan varietas baru bersifat unggul. Misalnya, produksi tinggi, adaptif pada kondisi iklim Indonesia, umur genjah, kualitas beras bagus dengan rasa nasi pulen dan enak.

    Batan mengklaim, padi hasil riset iptek nuklirnya ini terpilih sebagai salah satu karya unggulan anak bangsa dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2013. Nasinya pulen. Berasnya juga tahan lama.

     

    Pemuliaan Tanaman Menggunakan Teknologi Nuklir (Sumber:litbang.pertanian.go.id)

     

    Perlakuan genetik

    Padi hasil penelitian Batan mengundang respons beragam. Ada yang ragu, ada pula yang meyakini kebenarnnya.

    Direktur Utama Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan Indonesia (Konphalindo) Ruddy Gustave mengatakan, padi unggulan yang diluncurkan Batan merupakan perlakuan terhadap genetik, bukan modifikasi.

    Kalaupun disebut modifikasi, itu hanya modifikasi atau perlakuan bagian luar saja. Misalnya, menggunakan sinar laser atau mencacatkan bagian tertentu di dalam gen, sehingga bagian yang lain menjadi unggul. Namun, belum memasukkan gen asing.

    “Menurut saya, penelitian Batan ini bukan padi hasil modifikasi genetik. Harus dipahami, kalau modifikasi genetik itu memasukkan gen asing ke dalam gen utama,” jelas Rudy, Selasa, 28 April 2015.

    Ruddy menambahkan, Konphalindo tidak melakukan kajian terhadap padi hasil penelitian Batan. Soalnya, itu hanya perlakuan bagian luar saja. Tidak termasuk dalam kategori rekayasa genetik, dalam pengertian modifikasi.

    Menurut dia, bahaya memasukkan genetik asing ke dalam gen yang dijadikan benih, berbeda dengan bahaya yang ditimbulkan dengan perlakuan bagian luar gen.

    Ruddy mengaku belum bisa memastikan apakah padi unggulan yang diluncurkan oleh Batan akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang atau tidak.

    “Kalau dari internal benihnya, menurut saya itu bersih. Bahwa kalau ternyata dalam proses tanamnya masih menggunakan pupuk kimia atau pestisida, itu jadi persoalan lain,” ujarnya.

     

    Pertanian alami

    Suara senada juga dilontarkan oleh Aliansi Petani Indonesia (API). Kepala Departemen Advokasi Aliansi Petani Indonesia (API) Ferry Widodo menilai, selama produk padi unggulan Batan tidak berdampak pada kesehatan dalam jangka waktu lama, tidak masalah.

    “Tapi ini informasi menarik yang mungkin akan jadi bahan kajian kami di API,” kata Ferry.

    Menurut Ferry, selama ini, API lebih konsentrasi pada pertanian alami. Bagi lembaga ini, pertanian alami lebih baik dibandingkan dengan pola pertanian yang menggunakan bahan-bahan kimia.

    Lembaga ini juga menyuarakan kepada petani agar dalam proses bertanam menggunakan hal-hal yang sudah disediakan oleh alam. Alam sudah menyediakan pupuk alami dan tanah yang subur.

    Persoalannya, kata Ferry, selama ini kondisi tanah sudah dirusak oleh penggunaan pupuk kimia.

    “Nah, sampai sekarang saya tidak tahu apakah Batan sudah memublikasikan hasil risetnya atau belum. Terutama mengenai dampak pada kesehatan dalam jangka panjang,” tegasnya.*

     

     

    Editor: Chairul Akhmad

    Read more: http://www.varia.id/2015/04/29/padi-hasil-riset-nuklir-batan-dipertanyakan/#ixzz3YmA7z3oX

    Read More »

    Peer Review Hasil Riset – Aliansi Petani Indonesia

    “PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI PADI MELALUI PENERAPAN HPP MULTIKUALITAS

    DAN PENINGKATAN MUTU PENGILINGAN”

    Bagaimana mengatasi agar harga gabah tidak turun pada saat panen raya. Selain itu bagaimana bisa menaikkan pendapatan usaha tani yang luas garapannya yang tidaklah besar. Sekilas masalah ini bisa diselesaikan dengan cara melaksanakan kebijakan penerapan HPP multikualitas dan meningkatkan pendapatan dengan cara mengiling padi pada mesin penggilingan yang permanen(modern) dan sebagainya yang menyangkut hasil proses produksi gabah menjadi beras yang berkualitas dari pecahan butir beras dll, Ini adalah salah satu bagian dari fungsi sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Kementrian Pertanian yang diwakili oleh Bapak Valeriana Darwis yang memprensentasikan Hasil Penelitian, bersama VECO, AMARTAPADI dan Aliansi Petani Indonesia beberapa waktu lalu. Serta melakukan pemetaan masalah yang ada dibeberapa titik mitra kerja kami. Melihat dan mencatat berdasarkan temuan lapang selama proses penelitian ini, lantas laporan riset ini disusun dan di jadikan Peer Review Hasil Riset. Lalu kami menjadikannya tema dan sebuah laporan kerja hasil riset yaitu: “Peningkatan Pendapatan Petani Padi Melalui Penerapan HPP Multikualitas Dan Peningkatan Mutu Pengilingan”. Salah satu keterangan yang sempat dikutip dari kata pembukaan Nur Hady(API), lalu kata sambutan dari Ferry Widodo(API). Dalam agenda ini API juga turut mengundang para pakar perberasan seperti Bapak Ir Sutarto Alimoeso, MM sebagai penanggap utama dan mengundang Lembaga/Ormas Tani seperti HKTI, SPI, KTNA, Bina Desa, VECO, WAMTI, AOI, YLKI, KRKP, Field, IHCS, (Senin, 11 September 2015).

    Krisis pangan dan Impor pangan selalu menjadi berita hangat dibahas dan hampir setiap hari diberitakan oleh media masa. Pada dasarnya seluruh media tak lepas membicarakan tentang inti dari kenaikan harga beras seperti medium yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat karena sempat mengalami kenaikan harga dari Rp. 8.200 perkilogram menjadi Rp. 12.000 perkilogram dalam waktu dua bulan. Kenaikan harga ini dianggap tidak wajar oleh para pengamat dan pemerintah sempat tidak satu suara dalam mensikapinya. Harga beras medium pada tanggal 28 Februari 2015 paling tinggi terjadi di kota Jayapura yaitu Rp 13.000 perkilogram, kemudian diikuti kota Jakarta dan Manokwari sebesar Rp. 12.000 perkilogram. Harga yang paling rendah di kota Makassar dengan harga beras medium perkilogramnya sebenilai Rp.8.750.

    Pada dasarnya trend kenaikan harga beras tak diikuti kenaikan harga gabah di tingkat petani. Petani di Desa Dander Kabupaten Bojonegoro menyebutkan pada saat harga beras Rp. 9.000 sampai 10.000 perkilogram, petani hanya mampu menjual ke tengkulak senilai Rp. 6.500 sampai Rp. 7.000 perkilogram beras. Dan pada saat itu harga gabah kering sawah jenis IR 64 dan Ciherang sebesar Rp. 4.200 dan harga gabah kering gilingnya senilai Rp. 5.100 perkilogram. Artinya yang untung tetap tengkulak sementara petani tidak menikmati kenaikan harga beras. Hal yang sama juga dikatakan oleh Menteri Pertanian, dimana pada saat harga gabah mencapai Rp.6.500 perkilogram petani di sejumlah daerah hanya bisa menjual sekitar Rp. 4.500 /kg. Harga jual gabah akan semakin turun pada saat panen raya yang terjadi di akhir bulan Maret dan April. Untuk mengatasi penurunan harga gabah di tingkat petani, maka pemerintah harus mewajibkan Bulog melakukan pembelian gabah petani. Secara umum pada prinsipnya Perum Bulog siap menyerap gabah atau beras dari petani 2,75 juta ton pada tahun 2015. Penyerapan akan dilakukan secara bertahap. Harga beras atau gabah disesuaikan dengan penerapan HPP yang baru atau yang berdasarkan Inpres No. 5 tahun 2015 yaitu GKP Rp. 3.700 di tingkat petani dan Rp. 3.750 di tingkat penggilingan. GKG Rp. 4.600 /kg di penggilingan atau Rp. 4.650 di gudang Bulog dan HPP beras Rp. 7.300 di gudang Bulog.

    Terkait dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani inilah, kemudian API (Aliansi Petani Indonesia) bersama peneliti dari PSEKP Kementan telah melakukan penelitian mengenai hal ini dengan tema: “Peningkatan Pendapatan Petani Padi Melalui Penerapan HPP Multikualitas Dan Peningkatan Mutu Pengilingan”. Tentu saja, hasil penelitian ini masih memerlukan masukan dari berbagai pihak. Maka dari itu API melakukan peer review untuk melengkapi hasil dari penelitian tersebut dengan harapan hasil penelitian tersebut mampu menjadi gambaran bagi kita semua tentang situasi dan kondisi kesejahteraan petani di Indonesia.

    Read More »