PENGEMBANGAN ORGANISASI PETANI PADI – Aliansi Petani Indonesia

    Indramayu 24 s/d 26 Oktober.

    Asosiasi Masyarakat Tani Padi Indonesia (Amartapadi) Indramayu-Jabar.
    Pertemuan dilakukan pada 24 Oktober 2014 dan dihadiri oleh 17 orang dari 8 kecamatan, yakni: Balongan, Cikedung, Sukra, Anjatan, Kertasemaya, Bangodua, Widosari dan Leleak.

    Pertemuan ini bertujuan:

    Mensosialisasikan keberadaan Asosiasi Masyarakat Tani Padi Indonesia (Amartapadi) yang berdiri sebagai sebuah organisasi petani berbasis komoditas padi yang telah dideklarasikan sebelumnya di Boyolali Rabu (17/9/2014). PENGEMBANGAN ORGANISASI PETANI PADI ini guna mensosialisasikan visi dan misi organisasi petani padi (Amartapadi) serta struktur kepengurusannya. Mendorong pengorganisasian Amartapadi di tingkat wilayah (Jawa Barat) dan daerah (Indramayu) serta terbentuknya struktur organisasi di Tingkat daerah tsb. Hasil yang tercapai adalah, bahwa para peserta bersepakat untuk membentuk kepengurusan Amartapadi di Indramayu dengan struktur kepengurusan inti yang terpilih yaitu: (Ketua) Joharipin (sekretaris) M. Adad (Bendahara) Roki.

    Aliansi Petani Indonesia (API) sebagai pendamping dalam kaitan ini, berdiskusi dengan peserta mengenai berbagai masalah yang dihadapi oleh petani, seperti pupuk, benih dan akses pasar serta masih banyaknya program-program pemerintah yang yang sekiranya mubazir dan tidak secara akurat untuk membongkar permasalahan-permasalahn yang dialami petani dan lemahnya dukungan pemerintah pada usaha tani yang berakibat pada turunnya jumlah rumahtangga petani karena faktor kesejahteraan, yang jika masalah tersebut tidak segera diatasi maka akan menjadi salah satu ancaman bagi masa depan pangan dan bom waktu bagi masalah ketenagakerjaan nasional.

    Dalam diskusi ini juga terjadi penekanan pada pentingnya organisasi berbasis komoditas yang secara lebih terfokus akan bekerja untuk usaha-usaha baik pengorganisasian ekonomi maupun advokasi kebijakan terkait perberasan nasional kita, yang bukan saja berhajat pada pemenuhan pangan/ketahanan pangan, tapi terlebih lagi harus mengedepankan kedaulatan petani untuk mengakses berbagai sumberdaya pertanian untuk selanjutnya juga menjamin kesejahteraan bagi produsen/petani.

    PENELITIAN:
    Kegiatan penelitian oleh API dan PSEKP bertema “Mensejahterakan Petani Padi Melalui Struktur Usahatani Berdasarkan Agroekosistem” selain menggunakan data sekunder dari berbagai sumber, juga menggunakan data primer melaui wawancara dan menyelenggarakan FGD dengan 2 jenis agroekosistem yang berbeda, yakni lahan irigasi (Indramayu) dan tadah hujan (Cianjur).

    Acara penggalian data dari rumah tangga tani dilakukan PSEKP bersama API selama 2 hari (25 sd 26 Oktober) di kecamatan Kertasemaya, Indramayu yang berbasis agroekosistem irigasi teknis.

    pada kesempatan tersebut, para peneliti melakukan wawancara langsung dengan rumah tangga tani sejumlah 9-rumah tangga tani, yang meliputi “strata” atas (lahan milik sendiri dengan luasan mencapai 1 Ha) sebanyak 3-rumah tangga tani, dan bawah (lahan bukan milik sendiri/sewa) 6-rumahtangga tani. Kedua strata ini kadang juga beririsan karena sistem gadai lahan yang berlaku di masyarakat setempat.

    Untuk melengkapi data yang dikumpulkan, pada tanggal 25 Oktober pukul 19.00 dilakukan FGD yang dihadiri beberapa tokoh petani setempat. Dalam FGD tersebut para peneliti kembali melakukan penggalian data secara mendalam dan elaboratif. Muncul dalam pertemuan tersebut, permasalahan-permasalahan mendasar yang secara riil dihadapi oleh petani seperti sistem irigasi yang tidak adil dan dikuasai oleh pihak-pihak tertentu, dimana petani juga menjadi objek eksploitasi dari sistem pendistribusian air. Demikian juga dengan berbagai masalah terkait bantuan pemerintah yang tidak terdistribusi secara merata ke semua petani, serta kinerja PPL yang seringkali justru mempersulit para petani.

    Hasil dari penelitian ini akan diolah oleh tim peneliti PSEKP yang direncanakan selesai pada akhir November. Peer review akan dilakukan setelah itu yang akan difasilitasi oleh Aliansi Petani Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak yang cukup berkompeten, dengan tujuan untuk mempertajam materi dengan mendengar pendapat berbagai pihak, baik akademisi, organisasi petani, LSM. Penyempurnaan akan dilakukan setelah proses peer review tersebut selesai untuk selanjutnya hasil final penelitian dapat dipergunakan sebagai bahan advokasi terkait kebijakan beras nasional.

     

    Read More »

    Inilah Hasil Pertemuan Jokowi dengan Organisasi Tani di Istana – Aliansi Petani Indonesia

    RMOL. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan sejumlah ormas tani di Istana Negara, Jakarta, Kamis (2/7). Pertemuan tersebut berlangsung singkat, hanya sekitar setengah jam. Mulai dari jam 11.00-11.30 WIB tadi.

    Jokowi didampingi Menteri Sekretaris Negara, Pratikno dan Staf Khusus Sekretaris, Teten Masduki. Sementara dari perwakilan tani ada Henry Saragih (Ketua Umum SPI/Serikat Petani Indonesia), M Nur Uddin (Sekjen API/Aliansi Petani Indonesia), Gunawan (Ketua Komite Pertimbangan Organisasi IHCS/Indonesian Human Rights Committee for Social Justice)  dan sejumlah petani dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah.

    Sebagaimana diceritakan Ketua Komite Pertimbangan Organisasi IHCS, Gunawan, dalam pertemuann itu presiden juga menyetujui usulan penguatan koperasi petani sebagai mitra Bulog.

    “Harga Pembelian Pemerintah beras berdasar multi kualitas, dan mengalokasikan anggaran subsidi benih untuk petani pemulia benih,” terang Gunawan. 

    Presiden Jokowi, lanjut dia, juga berkenan hadir dalam Peringatan Hari Tani Nasional 24 September 2015 yang akan diselenggarakan oleh ormas ormas tani bersama organisasi organisasi lainnya. Ormas dan organisasi tani itu bekerja dalam pemajuan dan pembelaan hak atas pangan, hak nelayan dan hak petani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan.

    “Apa yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut diharapkan akan memberikan semangat bagi petani dalam menyukseskan swasembada pangan,” terang Gunawan.

    “Presiden berjanji akan mengundang lagi setelah sidang kabinet dan delegasi SPI, API dan IHCS menjanjikan akan mengirim masukan untuk rancangan peraturan presiden tentang badan pangan nasional,” sambungnya. [sam]

    Sumber: http://www.rmol.co/read/2015/07/02/208636/1/Inilah-Hasil-Pertemuan-Jokowi-dengan-Organisasi-Tani-di-Istana

    Read More »

    Kapasitas Pelayanan Organisasi Petani Nasional untuk Wirausaha Pertanian – Aliansi Petani Indonesia

    Minimnya kebijakan yang mendukung dan mendorong petani kecil di Asia dalam melakukan wirausaha, akan melemahkan pengembangan usaha yang dirintis dan dikelola oleh petani. Pada saat yang sama, terbatasnya peraturan yang efektif terkait dengan kesepakatan antara produsen kecil (petani kecil) dan pihak lain juga menciptakan masalah bagi petani, baik laki-laki maupun perempuan. Di banyak negara di Asia, petani sedang ramai menjalin berbagai kesepakatan dengan pihak swasta. Misalnya, kontrak tanam dengan investor. Dalam kontrak tanam, seringkali petani harus menanggung ongkos gagal panen sehingga banyak petani malah terjerumus dalam hutang kepada investornya. (Jakarta, 24-25 Agustus 2015)

    Petani berhadapan dengan banyak persoalan yang membatasi produksi dan potensi pendapatan mereka, termasuk perubahan iklim, penurunan kualitas tanah, penggunaan input pertanian kimia yang berlebihan dan berbahaya, serta kurangnya pengairan/irigasi. Semua persoalan ini membuahkan produksi dan pendapatan petani yang rendah, membatasi kesempatan sukses petani dalam berwirausaha/bisnis.

    Dengan melibatkan berbagai pihak yang menyediakan jasa pelayanan terkait kewirausahaan berbasis pertanian, seperti dalam tata produksi, tata kelola organisasi usaha, dan pemasaran produk pertanian, hal ini dapat membawa peningkatan pendapatan petani baik laki-laki maupun perempuan, dan berujung pada peningkatan kesejahteraan dan standard hidup petani.

    Aliansi Petani Indonesia (API) bersama Asian Farmers’ Association (AFA) telah mengadakan studi pemetaan organisasi-organisasi petani nasional dalam meningkatkan kualitas pelayanan mereka kepada anggota yang menjalankan wirausaha untuk mendukung kepada peningkatan pendapatan anggota/petani. Pemetaan tersebut telah dilakukan pada Juni-Agustus 2015 terhadap Aliansi Organis Indonesia (AOI), Bina Desa, Serikat Petani Indonesi (SPI), Wahana Masyarakat Tani Nelayan Indonesia (WAMTI), dan Aliansi Petani Indonesia (API).

    Sebagai salah satu anggota AFA, API dengan sebagian anggotanya yang sudah menjalankan wirausaha berbasis pertanian menganggap studi pemetaan terhadap organisasi-organisasi petani di tingkat nasional sangat penting dilakukan. Sehingga pada gilirannya, kegiatan pemetaan yang kemudian disusul dengan “Workshop Pembelajaran” di tingkat nasional dan regional ini diharapkan dapat menghasilkan beberapa capaian.

    Read More »

    Pelatihan Manajemen Keuangan Berbasis Komputer untuk Organisasi Petani – Aliansi Petani Indonesia

    Dalam sebuah organisasi, baik itu organisasi yang bersifat profit maupun non profit, kebutuhan akan informasi keuangan yang baik dan sistematis, akan membantu organisasi dalam membuat perencanaan. Pelaporan keuangan juga dapat menunjukkan kinerja dan tatakelola keuangan organisasi yang baik (good governance). Laporan keuangan dapat digunakan untuk mengambil keputusan oleh organisasi secara internal maupun digunakan olehpihak luar. Penyediaan informasi keuangan dimulai dari proses perencanaan anggaran, kebijakan keuangan, transaksi keuangan, pencatatan keuangan, pemeriksaan dokumen keuangan, pengelompokan transaksi keuangandan laporan keuangan.

    Berangkat dari kebutuhan inilah, MTCP2 Indonesia menyelenggarakan pelatihan manajemen keuangan berbasis komputer. Pelatihan ini diikuti oleh organisasi tani nasional Aliansi Petani Indonesia (API), Serikat Petani Indonesia (SPI), Wahana Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia (WAMTI), serta lembaga swadaya masyarakat Indonesian Human Right For Social Justice (IHCS).

    Pelatihan yang diselenggarakan di Hotel Sofyan Jakarta, 17-19 Desember 2015 ini diikuti oleh sekitar 20 peserta, dengan tujuan memberikan pemahaman kepada para pengurus organisasi petani dan LSM agar mampumenyediakan infomasi keuangan secara sistematis dan accountable sesuai dengan standar akuntansi keuangan organisasi nirlaba/laba.

    “Pengetahuan di bidang manajemen keuangan dan akuntansi perlu dipahami dan dimiliki oleh pengurus sebuah organisasi,” ujar Muhammad Nuruddin, Sekretaris Jendral Aliansi Petani Indonesia (API) dalam pembukaan pelatihan.“Pelatihan manajemen keuangan akan membantu sebuah organisasi petani meningkatkan kinerja manajemen keuangan dan proses akuntansi, sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas organisasi”.

    Lebih lanjut, Sekjen API berharap pelatihan ini dapat membantu meningkatkan sumberdaya manusia (pengurus anggota) dalam mengelola keuangan organisasi petani, mengingat pentingnya hal ini bagi organisasi petani dan organisasi usahanya. Adanya informasi keuangan yang baik dan sistematis akan membantu dalam proses pengambilan keputusan dan merumuskan rencana strategis organisasi. Hal senada diungkapkan oleh Muhammad Rifai, fasilitator pada pelatihan keuangan tersebut.

    “Informasi keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban telah menjadi perhatian anggota organisasi dan masyarakat pada umumnya,” jelas Muhammad Rifai. “Manajemen keuangan dan kegunaan akuntansi semakindiperlukan oleh organiasi laba maupun nirlaba. Dengan akuntansi akan dihasilkan informasi keuangan yang sangat berguna bagi internal seperti pengurus organisasi dalam rangka membangun manajemen keuangan organisasi, ataupun bagi pihak luar seperti pemberi dana, pemerintah, auditor, dan masyarakat untuk mengetahui akuntabilitas organisasi”.

    Pelatihan yang diselenggarakan selama tiga hari ini, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan organisasi petani dalam manajemen keuangan dan akuntansi organisasi. Selain itu, organisasi petani diharapkan menjaditerlatih menerapkan sistem manajemen keuangan berbasis komputer.

    “Hasil pelatihan menggunakan Quick Book ini sangat berguna dalam memudahkan pekerjaan saya sebagai pelaksana pembukuan di SPI,” ujar Ati Sulastri kepada Ferry Widodo pada saat diwawancarai. Menurut Bendahara Serikat Petani Indonesia yang mengikuti pelatihan Manajemen Keuangan Berbasis Komputer ini, materi yang disajikan dalam pelatihan mudah diikuti. “Saya tidak menemui kendala apapun dalam pelatihan. Materinya mudah kami praktikkan”.

    Sementara itu, Eman Sulaeman dari Koperasi Hanjuang, Banten, mengaku jika pelatihan ini sangat berguna bagi koperasi yang dikelolanya. Koperasi Hanjuang mendapat akses pasar berupa pesanan madu dari PT Orindo Alam Ayu (Oriflame) dengan omzet koperasi per bulan mencapai Rp.225 juta.

    “Kami sangat memerlukan sistem pencatatan keuangan yang baik,” ungkap Eman Sulaeman, yang juga Direktur Koperasi Hanjuang. “Waktu penyelenggaraan pelatihan ini pas, bertepatan dengan kali pertama kami mendapatkan uang muka pembelian madu. Terima kasih kepada Sekretariat Nasional API, semoga petani Indonesia jaya di buminya sendiri. Amin!”  (fw/ink.

     

    Read More »

    Organisasi Petani Tolak Benih Transgenik – Aliansi Petani Indonesia

    Selasa, 23/02/2016 09:02 WIB

    Bisnis.com, JAKARTA — Sedikitnya 13 organisasi petani dan sipil menolak rencana pemerintah yang akan menggunakan benih transgenik.

    Penolakan itu disampaikan karena  karena diduga benih transgenik bermasalah dari segi keamanan pangan dan menimbulkan ketergantungan baru petani.

    Muhammad Rifai dari Aliansi Petani Indonesia menuturkan, penggunaan benih transgenik akan menggeser model pertanian yang sebelumnya adalah multikultur menjadi monokultur.

    Tak hanya itu, benih transgenik juga bermasalah dari sisi keamanan, kesehatan, dan pertanian berkelanjutan.

    “Rencana pemerintah, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Koordinator Perekonomian mendorong pelepasan dan penggunaan benih transgenik bertentangan dengan prinsip kedaulatan pangan, bertentangan juga dengan program Nawa Cita dari Presiden Joko Widodo,” kata Rifai dalam rilis bersama, Selasa (23/2/2016).

    Dia menuturkan benih tersebut juga akan menimbulkan ketergantungan baru para petani terhadap benih-benih transgenik.

    Hal itu, sambungnya, akan mengancam desa-desa yang selama ini mengembangkan proses pembangunan pertanian organik.

    SUMBER: http://industri.bisnis.com/read/20160223/99/521673/organisasi-petani-tolak-benih-transgenik

    Read More »

    Pemimpin FOs Nasional Bertemu Di Ciwedey, Bandung, Jawa Barat Membahas Permasalahan Organisasi Petani – Aliansi Petani Indonesia

    17-19 Nov 2018, Pemimpin-pemimpin organisasi petani bertemu di Wisma Stroberry, Ciwedey, Bandung, Jawa Barat. Perwakilan dari lima FO Nasional telah hadir dalam pertemuan tersebut. Acara ini bertujuan untuk meninjau kembali pencapaian program MTCP2-AFOSP di Indonesia, update informasi pertemuan SRSC / RSC di Yogyakarta, dan merumuskan strategi kemitraan / kerjasama dengan IFAD Countri dan Pemerintah dalam mempromosikan pembangunan pertanian dan pertumbuhan ekonomi pedesaan.

     

    Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin FO membahas beberapa topik atau isu terkait kebijakan nasional yang penting yang dipromosikan oleh FO, yaitu pelaksanaan program pembaruan agraria dan program unggulan pedesaan untuk pertanian, perlindungan dan pemberdayaan petani, stabilitas harga pangan dan kesejahteraan petani. Perlindungan dan pemberdayaan nelayan. Pendapat dan kesimpulan dari pertemuan tersebut akan digunakan untuk proses advokasi kebijakan termasuk dialog kebijakan dan loby, kemudian akan disampaikan kepada anggota FO Nasional untuk mengatur dan mengawasi pelaksanaan kebijakan di setiap provinsi dan kabupaten termasuk di desa.

    Read More »