Petani Lereng Slamet Mendorong Pertanian Organik – Aliansi Petani Indonesia

    Sekitar 100 petani lereng gunung Slamet yang tergabung dalam Paguyuban Petani Lereng Slamet (PPLS) di kecamatan Sirampog, Brebes, Jateng, menghadiri kegiatan Seminar Ketahanan Pangan dan Pemanfaatan Limbah Menjadi Pupuk Organik. Hadir sebagai nara sumber pada kegiatan tersebut, M Fadlil Kirom, Pengurus Seknas Aliansi Petani Indonesia (API), Susatyo (Ketua DPD API Jateng) dan Habib Muhammad Syahab dari Pekalongan.

    Dalam kegiatan yang dilaksanakan di gedung KPN Sirampog, Brebes (06/02/2013) tersebut, API berusaha mendorong agar PPLS mengembangkan pertanian organik  yang ada di kecamatan Sirampog seperti padi hitam dan sayur-mayur sebagai hasil pertanian utama wilayah itu. “Pertanian organik merupakan alternatif atas situasi kerusakan tanah yang sudah semakin parah dan tandus akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan”, ujar Susatyo yang juga seorang praktisi pertanian organik di wilayah Boyolali.

    Lebih lanjut M. Fadlil Kirom menggambarkan situasi pertanian khususnya pangan di Indonesia. Ia memaparkan bahwa saat ini para petani mengalami kerugian terutama saat terjadi panen raya, selain kepemilikan lahan petani yang juga semakin sempit. Hal ini diperparah lagi dengan semakin derasnya laju impor pertanian sebagai dampak perjanjian perdagangan bebas. Dalam hal ini pemerintah baik pusat maupun daerah diharapkan mampu melindungi petani. Di tingkat daerah minimal ada perusahan yang mampu bergerak di sektor pangan yang bisa melindungi harga petani terutama disaat panen raya.

    Kegiatan bertajuk Ketahanan Pangan dan Pemanfaatan Limbah Menjadi Pupuk ini diakhiri dengan praktek lapang pembuatan pupuk organik yang difasilitasi oleh Habib Muhammad Syahab.  Para petani tampak serius mengikuti kegiatan praktek lapang tersebut. “Jika manusia merusak alam, maka alam pun akan berbuat hal yang sama kepada manusia, berbagai bencanapun akan mendatangi manusia. Itu adalah sunnatullah. Jadi bertani organik itu tidak semata-mata mencari untung tetapi ada unsur menjaga keseimbangan alam ini”, ujar Habib Muhammad Syahab di sela-sela proses fasilitasi.

    Ketua PPLS, Imaduddin, putra Almarhum KH Masruri Abdul Mughni (mantan Syuriah NU Jawa Tengah) dari Ponpes Al Hikmah 2 Sirampog bertekad untuk memperkuat organisasi petani di lereng slamet dan dalam tahap pertama akan mencoba mengembangkan padi hitam dengan sistem pertanian organik. [] Dilaporkan oleh. Fadllil Kirom

    Read More »

    Ekspor Perdana Beras Organik APPOLI – Aliansi Petani Indonesia

    Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI) berhasil melakukan ekspor padi organik. Ekspor perdana kelompok petani di daerah Boyolali, Jawa Tengah ke Belgia tersebut dilaksanakan pada awal bulan Mei dan segera disusul kemudian ke Jerman pada akhir Juli serta berlanjut ke beberapa negara lain.

    Beras organik yang diekspor ke Belgia dan negara lainnya telah mendapat sertifikasi dari IMO Swiss untuk beberapa standar, yaitu Organik Eropa, Japan Agriculture Standards (JAS), Sertifikasi organik Amerika Serikat (USDA) dan Fair-trade mulai tahun 2012. APPOLI sendiri melakukan kerjasama dengan PT. Bloom Agro dalam memasarkan beras organiknya di pasar internasional.

    Keberhasilan Appoli mengekspor beras organik tidak lepas dari kerja keras organisasi petani ini membangun Internal Control System (ICS) organik di kelompoknya. Saat ini Appoli memiliki tiga kelompok tani tersertifikasi internasional dan akan menambah tiga lagi untuk sertifikasi nasional (SNI). Appoli melakukan ICS sejak tahun 2010 dan saat ini sudah ada 18 kelompok tani yang menerapkan ICS. Karena keterbatasan dana, sertifikasi dilakukan bertahap.

    Dalam penerapan ICS dan proses sertifikasi, Appoli mendapat bantuan teknis dari Lembaga Studi Kemasyarakatan dan Bina Bakat (LSKBB) sebagai pendukung di lapangan. Sementara pihak pemerintah daerah Kabupaten Boyolali juga berperan besar, karena semua kegiatan selalu berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Boyolali. Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Boyolali dan di tingkat provinsi banyak membantu dalam kegiatan sertifikasi.

    Pelaksanaan ekspor perdana beras organik Appoli pada 10 Mei 2013 dihadiri Bupati Boyolali Seno Samudro, DPRD Boyolali, perwakilan kelompok tani, Perwakilan Regional VECO Indonesia dan PT. Bloom Agro.

    Dalam sambutannya, Bupati Boyolali mengatakan supaya Appoli tetap menjaga mutu produksinya supaya terus bisa mengekspor beras organik. Ekspor ini, menurut bupati, menjadi kebanggan Kabupaten Boyolali. “Pemda Boyolali siap mendukung usaha petani untuk maju dalam pengembangan usaha tani dan siap mendukung sertifikasi beras organik di seluruh kabupaten Boyolali,” kata Bupati.

    Sementara Perwakilan Regional VECO Indonesia menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Appoli adalah kerja keras petani. Appoli telah mengembangkan manajemen bisnis modern. Semua ini tidak terlepas dari kerja sama semua pihak, baik dari LSKBB yang mendukung pengembangan di lapangan dan pemerintah daerah yang selalu aktif membantu petani.

    Emily Soetanto dari PT. Bloom Agro sangat mendukung organisasi petani seperti Appoli untuk maju dalam bisnis. Kerja sama antara APPOLI dan PT. Bloom Agro adalah kerja sama jangka panjang. PT. Bloom Agro menjanjikan akan mengirim 8 kontainer dari Appoli tahun ini dan tahun selanjutnya akan meningkat semakin banyak.

    Tentu saja petani mendapat keuntungan dari proses ini. Di tingkat petani, mereka yang sudah tersertifikasi dan masuk dalam Approved Farmers’ List (AFL) berhak menjual beras organik ke Appoli. Hasil panen (GKP) mereka akan langsung ditimbang dan dibayar dengan harga jauh di atas harga pasar ketika masuk gudang Appoli. Selanjutnya Appoli akan melakukan prosesing sampai dengan pengemasan beras organik tersebut.

    Petani merasa senang karena terlepas dari sistem ijon dan hasil panen langsung dibayar oleh Appoli. Sedangkan untuk Appoli proses ini menjadi penting sebagai usaha bisnis yang memberikan keuntungan lebih besar bagi anggotanya.

    Source: http://www.veco-ngo.org

    Read More »

    Apakah Beras Organik Lebih Enak ? – Aliansi Petani Indonesia

    surabayaonline.co -Beras organik adalah beras yang dihasilkan dari proses Pertanian Organik, sedangkan Pertanian Organik adalah sistem budidaya yang mengandalkan hanya dari bahan-bahan alami.

    Jadi beras organik ini, dihasilkan dari

    1. Bibit lokal non transgenik
    2. Dipupuk menggunakan pupuk organik seperti pupuk kompos, pupuk hayati atau lainnya
    3. Air dan udara juga dipastikan tanpa ada kontaminan (zat yang tidak dikehendaki / berbahaya)
    4. Untuk menghilangkan hama digunakan bahan alami pula seperti daun-daun atau buah yang difermentasi
    5. Untuk pasca panen tidak menggunakan poles, pengawet, pemutih, pengharum atau lainnya

    Dengan cara diatas maka akan didapatkan beras dengan kontaminan jauh lebih sedikit, sehingga beras ini aman dan sehat untuk dikonsumsi. Secara ekosistem juga baik, karena unsur hara tanah tetap terjaga, serangga yang masih dibutuhkan untuk alam tidak ikut mati dan seterusnya.

    Untuk masalah kesehatan beras full organik atau pro organik (diproses Semi Organik) tidak perlu diragukan lagi, namun bagaimana dengan cita rasa beras organik bila dibandingkan dengan beras non organik ? berikut ini penjelasan Chef Indra Wahyudi yang biasa dipanggil dengan cak Blangkon.

    “Alhamdullilah mbak, saya sudah mencoba beberapa jenis beras full organik maupun pro organik, jadi saya bisa memberikan opini saya. Insyaallah  tidak hanya cita rasanya saja, tapi akan saya bahas mulai dari warna, texture, aroma dan rasanya” kata Chef Indra saat menemui Pengurus API (Aliansi Petani Indonesia) Jawa Timur. Minggu (5/4) di Surabaya

    Naning dan Atik sebagai pengurus API Jawa Timur bertemu dengan  Chef Indra dalam rangka menggali opini beras organik dari sisi chef, disamping itu juga mengundang chef Indra untuk memberikan pelatihan bagi para petani dan peternak dalam rangka pasca panen sehingga bisa

    Pertama adalah dari warna, menurut chef Indra Wahyudi ada beberapa (sebagian kecil) beras organik itu warnanya kusam, itu wajar karena beras organik tanpa poles atau pemutih, tapi bagi Chef Indra hal ini tidak menjadi masalah, dengan menambahkan air jeruk nipis setengah potong kedalam rice cooker, maka setelah matang nanti nasinya akan terlihat putih bersih dan tahan lama.

    Kedua mitos beras organik texturenya lembek, menurut chef Indra beras organik dan beras non organik, keras lembeknya bergantung pada jumlah air, bila dinilai nasinya terlalu keras maka bisa ditambahkan air, untuk hasil yang maksimal chef Indra menyarankan menggunakan air isi ulang.

    “Masing masing beras ada cirinya sendiri, ada yang suka air ada yang tidak suka air, harus dicoba dulu, diberikan 250 cc bagaimana hasilnya, kalo nasi dirasa keras bisa ditambahkan air lagi, misal 300 cc dan seterusnya, pakai air isi ulang ya” ujar chef yang biasa dipanggil cak Blangkon

    Ketiga, mitos beras organik tidak ber aroma. Chef Indra Wahyudi mengatakan bahwa beras organik justru saat matang keluar aromanya, namun aromanya adalah aroma khas nasi matang bukan aroma pandan.

    “Bila menginginkan aroma pandan, ya gampang, tambahkan ke rice cooker daun pandan satu lembar, nanti tercium aroma pandannya ” demikian kata chef Indra memberikan tipsnya

    Nah terus rasanya Bagaimana …?

    Menurut chef Indra wahyudi rasa antara beras organik dan non organik kurang lebih sama, apalagi bila nasi itu dimakan bersama masakan lain, peran bumbu menjadi penting karena akan mendominasi rasa masakan.

    “Untuk rasa kurang lebih sama antara beras organik dan non organik, apalagi yang kita makan bukan nasi doang, ada sambal, ada kuah, ada pula nasi goreng, jadi bumbu masakanlah yang lebih dominan dirasakan” jelas chef Indra.

    Lebih jauh chef Indra Wahyudi menyarankan, kalo berasnya organik, sayurnya juga organik, maka jangan lupa prosesnya dan alatnya juga harus sehat pula, dalam hal ini proses pembuatannya harus higienis dan alat yang dipakai hendaknya Stainless bukan aluminium.

    “Dan terakhir pilih juga bumbu yang sehat ya” kata chef Indra menutup pertemuan.

    (*adi)

    SUMBER:
    https://surabayaonline.co/2020/04/07/apakah-beras-organik-lebih-enak-begini-kata-chef-indra-wahyudi/

    Read More »