“menggerakkan tradisi petani melalui Vandana Shiva.” – Aliansi Petani Indonesia

    “Our Seed Our Future, Strengthening Indonesia’s Food Sovereignty” (Benih Kami Masa Depan Kami, memperkuat kedaulatan pangan Indonesia), yang diselenggarakan pada Senin,18 Agustus 2014. Di ruang Balai Sidang, Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Kegiatan tersebut terselenggara berkat kerja sama berbagai pihak dari organisasi kemasyarakatan dan Akademisi, seperti: KEHATI, Universitas Indonesia, Mantasa, Bina Desa, Omar Niode Foundation, Indonesia Berseru, the GEF Small Grant Programme, Aliansi Masyarakat Adat, MADCK, dan Slow Food Jabodetabek. Selain kuliah umum, digelar pula pameran berbagai produk pertanian dan informasi dari lembaga-lembaga yang menyelenggarakan acara tersebut.

    Kuliah umum dimulai tepat pada pukul: 09.00 wib, Dan dibuka oleh tuan rumah dari Universitas Indonesia UI dengan kata sambutan dari Bachtiar Alam, S.S., M.Si., M.A., Ph.D. Sebagai perwakilan dari almamater UI, lalu dilanjutkan dengan beberapa rangkaian lagu-lagu yang senada dengan tema acara tersebut. Musik dan nyanyian yang dilantunkan dengan indah oleh beberapa seniman, Menceritakan betapa berharganya menjaga keberadaan sebuah benih, benih pangan untuk masa depan bagi seluruh umat manusia. Dalam lagu yang kedua, para musisi mengisahkan tentang siapa yang akan (mau) menjadi petani? Siapa yang akan meneruskan keberlangsungan masa depan pertanian.
    Selain itu dalam acara “Our Seed Our Future, Strengthening Indonesia’s Food Sovereignty”, terlihat salah satu tokoh aktivis perempuan dari India yaitu Dr.Vandana siva, dia merupakan seorang filsuf, penulis, eco-feminis dan ilmuwan yang telah menerima banyak penghargaan, Dia juga memiliki keperdulian yang besar pada isu-isu pertanian, Sepanjang kiprahnya, Dr. Vandana shiva pernah mendapatkan The Right Livelihood Award (Alternative Nobel Prize) dan Time Magazine’s Environmental Hero dan The Sydney Peace Prize.

    Setelah kata sambutan dari Dr. Bachtiar Alam dan sesi kesenian, kini saatnya Dr. Vandana shiva mengantar kuliahnya dengan mengungkapkan rasa senangnya tiba di Indonesia bertepatan dengan saat-saat peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-69. Turut serta Dr.Vandana siva mengajak anaknya yang ikut serta dalam lawatannya ini, masih dalam peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-69 tahun, dia menegaskan, “inilah masa-masa yang harus diperjuangankan untuk kedaulatan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia.”

    Lalu di depan sekitar seratusan orang audiens dari berbagai kalangan se-Jabodetabek, Dr. Vandana shiva memaparkan kedaulatan atas benih dan pangan. “Benih adalah masa depan manusia,” ujar Dr. Vandana shiva mengawali kuliahnya. “Walaupun terjadi peperangan, benih tetap bisa bertahan. Selalu ada manusia, walau seorang yang mempertahankannya. Dan benih itulah yang menjadi tumpuan harapan masa depan manusia”. Dr. Vanda shiva juga memberi contoh ketika terjadi perang di wilayah Nepal, di sana benih-benih tanaman dapat diselamatkan. Selanjutnya, pakar fisika quantum ini memaparkan bahwa kekerasan demi kekerasan terus berlangsung terhadap pertanian, sejak dulu hingga hari ini. Ia yang sejak semula pada masa mudanya berkutat sibuk dalam urusan-urusan ilmu fisika quantum di kampus, pun mulai tergerak mendalami masalah lingkungan dan perempuan. Menurutnya, kekerasan di pertanian itu terjadi manakala munculnya pestisida yang dibuat berdasarkan alat dan teknologi berbasis keperluan perang. Contohnya: “agent orange” yang digunakan dalam perang di Vietnam adalah sebenarnya herbisida kimia untuk membunuh gulma, yang ternyata membahayakan saraf manusia. Bom-bom yang diciptakan dan digunakan oleh para teroris di Afghanistan adalah bahan-bahan kimia untuk membuat pupuk.

    Dr. Vandana shiva juga menyinggung soal produktivitas tanaman, ia memperbandingkan produktivitas tanaman hasil rekayasa genetika (rekgen) dengan tanaman yang dibudidayakan secara organik. Tanaman hasil rekgen tentu akan produktif jika ditanam sesuai dengan persyaratan seperti pupuk dan pestisida kimia tertentu dalam ukuran dosis tertentu (memerlukan perlakuan khusus dan tergantung pada jenis pestisida/pupuk yang telah ditentukan oleh produsen benih rekgen tersebut), harus ditanam secara monokultur untuk mencapai produktivitas yang diinginkan sehingga meminggirkan keanekaraganan hayati. Tanaman-tanaman tersebut banyak yang ditumbuhkan dalam fasilitas rumah kaca, sehingga menciptakan sumber-sumber pencemaran ke lingkungan, dan berperan dalam perubahan iklim dunia.

    Rekayasa genetika jelas bukan teknologi untuk meningkatkan produksi pangan.
    Sementara itu, tanaman yang dibudidayakan secara organik, memiliki produktivitas yang berbeda. Ia menekankan bahwa dengan bertani organik, berarti kita mengupayakan kelestarian keanekaragaman hayati di pertanian. Dan itulah yang dilakukan oleh para perempuan di pertanian organik. Hingga saat ini, ribuan dollar harus dikeluarkan, karena punahnya jenis-jenis tanaman di dunia akibat pencemaran tanah, udara dan air. Dari ribuan jenis tanaman pangan, hanya-8 jenis yang diakui didunia sebagai komoditas pangan, sehingga sisanya yang ribuan itu musnah karena tidak dianggap sebagai pangan.

    Menurut Dr. Shiva, petani tidak mengembangkan komoditas. Alam dan manusia menghasilkan pangan, sementara pemilik modal mengembangkan komoditas, dan komoditas adalah barang dagangan yang tentunya hanya dinilai dengan uang. Oleh sebab itu, dunia pertanian yang kini disemarakkan dengan serbuan investasi (termasuk RAI/Responsible Agriculture Investment?) tidak bisa menyediakan pangan bagi manusia, tetapi hanya memberikan keuntungan bagi pemilik modalnya. Petani tetap terpinggirkan.

    Inilah mengapa tanaman hasil rekayasa genetika (GMO) tidak bisa memberi makan penduduk dunia. Sementara itu telah terjadi kerjasama yang solid antara perusahaan dan negara sehingga menjadi satu kesatuan yang sulit terpisahkan, di hampir seluruh negara di dunia. Hal ini meminggirkan petani kecil, mengancam keberadaan mereka dan matapencaharian mereka, sehingga tidak mengherankan keadaan ini membuat dunia pertanian menjadi tidak menarik bagi para generasi muda.

    Di India, Shiva juga bergabung dengan gerakan Chipko yang memperjuangkan keberlangsungan keanekaragaman hayati di hutan-hutan di India. Sebagai ilmuwan, Shiva bersama para ilmuwan di seluruh dunia juga menyerukan moratorium kepada parlemen dan pemerintah di berbagai negara untuk menghentikan GMO ini, sementara itu perusahaan-perusahaan benih terus menyuap parlemen dan perdana menteri

    Dalam kuliah umum ini, berkali-kali Vandana Shiva mengangkat pertanian organik (dengan keunggulan input-inputnya) sebagai bentuk pertanian yang dapat menjawab tantangan/ancaman yang dibawa oleh pertanian modern (GMO), dan ia juga menyebut perempuan sebagai penjaga gawang keberlangsungan hidup benih-benih pertanian. Sehingga apa yang mereka jaga, pelihara dan tanam akan menentukan masa depan manusia. Memang hampir tidak ada hal-hal baru yang disampaikan oleh Dr. Shiva, namun pemaparannya selalu mengingatkan kembali kita semua akan akar permasalahan di dunia pertanian dan ia terus menyemangati kita, khususnya petani agar tidak surut harapan dan tekad untuk tetap mengembangkan cara-cara bertani kita yang berkelanjutan.

    Menangkap dan meringkas apa yang dibagi oleh Dr. Vandana Shiva di kampus UI. Masih banyak hal-hal atau masalah lain yang diungkapkan Dr. Shiva dalam kuliahnya, seperti politik apartheid versus keanekaragaman umat manusia, gerakan Satyagraha yang dilakukan oleh Gandhi jauh sebelum Nelson Mandela (mantan Presiden Afrika Selatan) mengangkat gerakan anti perbedaan warna kulit itu, dan sebagainya.

    Dalam rencananya, setelah memberi kuliah umum di UI, Dr. Shiva juga akan mengunjungi Kediri dan Bali.

     

     

     

     

    Read More »