Kalah dari Negara ASEAN, Daya Saing Beras di Indonesia Sangat Rendah – Aliansi Petani Indonesia

    Jakarta, Aktual.com — Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat, Khudori mengatakan, bahwa daya saing Indonesia dari segi finansial dan ekonomi sangat menguntungkan, meskipun pada masing-masing provinsi memiliki keuntungan yang berbeda.

    “Tetapi di provinsi penghasil padi seperti di Lampung, Jatim, Jabar, Sulawesi Selatan, itu daya saingnya bagus,” demikian kata Khudori, kepada Aktual.com, di Jakarta, Senin (2/11).

    Namun demikian, menurutnya, jika melihat terhadap komoditas beras justru menjadi masalah. Keluh ia, lantaran daya saing beras di Indonesia masih sangat rendah.

    “Itu ditunjukkan dari indeks spesialisasi pemasaran. Kalau kita bandingkan dengan negara-negara produsen utama di ASEAN, kita kalah jauh, terutama dengan Thailand dan Vietnam,” urainya dengan nada mengeluh.

    Ia menerangkan, bahwa harga beras domestik dengan beras impor sangat bertolak belakang.

    “Jadi kalau orang impor sekarang, nilai keuntungannya sangat besar. Harga beras impor setara medium baik dari Thailand maupun Vietnam kalau dibawa ke Indonesia berkisar Rp6000 sementara harga di pasar jika melihat web Kementrian berkisar Rp10.000 jadi marginnya sangat besar,” paparnya menambahkan.

    “Kalau kita lihat konsep HPP, sebelum sebelumnya harga beras di internasional menjadi bagian yang dipertimbangkan, namun sejak 2004 itu tidak lagi terjadi. Besaran HPP semata-mata dilihat dari ongkos produksi,” katanya lagi menjelaskan.

    “Dari ongkos produksi ketemu berapa, terus dikasih margin, margin keuntungan, disitulah ditentukan keuntungan, itu di antara lain yang membuat tidak ada perbandingan atau ‘banchmark’ mengapa harga beras kita semakin tinggi.”

    Di tempat dan kesempatan yang sama, ia menduga bahwa pemerintah hanya mengejar swasembada gabah, namun melupakan beras.

    “Padahal antara gabah dan beras itu tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu tidak diurus, itu pasti keduanya akan tidak bagus,” terangnya memberikan alasan.

    Terakhir, lanjut ia, faktor penyebab permasalahan di atas yakni, karena kebijakan pemerintah lebih fokus pada ‘on farm’ (subsidi pupuk, benih, bantuan traktor,irigasi,dan lain-lain), tetapi pembenahan di sisi industri perberasannya relatif tertinggal.

    Maka ada dua tahapan penting yang menurutnya, kebijakan Pemerintah ini relatif belum tersentuh. Yaitu, terkait pengeringan dan penggilingan yang menentukan kualitas dan produktivitas beras tersebut.

    (Ferro Maulana)

    Read More »

    Kopi Malang Tidak Kalah dari Kopi Daerah Lain – Aliansi Petani Indonesia

    Kopi Malang Tidak Kalah dari Kopi Daerah Lain

     

    MALANG, KOMPAS — Masyarakat di Malang raya bergerak untuk menguatkan nama kopi Malang di tingkat lokal. Hal itu dinilai akan menjadi awal menguatnya nama kopi malang ke tingkat nasional bahkan internasional.

    Hal itu menjadi benang merah diskusi dengan tema “Menegakkan Kedaulatan Kopi Malangan”, Sabtu (20/5), di Kantor Kompas Biro Malang, Jawa Timur. Diskusi yang diawali dengan mencicipi cita rasa aneka kopi asal Malang tersebut kerja sama harian Kompas, Aliansi Petani Indonesia (API), dan Jaringan Kedai Kopi Malang Raya.

    Hadir dalam kegiatan itu, Sekretaris Jenderal API Muhammad Nuruddin, Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Malang Budi Widodo, pemilik kedai kopi, dan sejumlah petani kopi di Malang.

    Penguatan nama kopi asal Malang dilakukan oleh pemerintah daerah, pengusaha kopi, petani, dan lembaga pendamping petani. Kerja sama semua pihak dinilai akan mampu mendongkrak nama kopi asal Malang agar tidak kalah dari kopi lain, seperti kopi dari Aceh, Banyuwangi, Lampung, ataupun Toraja.

    Potensi kopi di Malang raya cukup tinggi. Setidaknya ada kopi dari lereng Gunung Arjuno, Panderman, Kawi, Semeru, dan Bromo. Setiap kopi memiliki cita rasa masing-masing dan penikmat berbeda-beda.

    Eko Yudi Sukrianto, petani kopi asal Dampit, mengatakan, ia bersama ratusan petani asal tiga desa di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, mengorganisasi diri sejak dua tahun lalu. Tiga desa itu adalah Srimulyo, Sukodono, dan Baturetno. Mereka mengusung kopi dari tiga desa, yaitu kopi Sridonoretno.

    “Potensi kopi Sridonoretno sekitar 500 hektar Namun, hingga kini yang diolah dengan baik masih sekitar 7 hektar. Butuh edukasi dan bimbingan menyeluruh untuk terus menguatkan nama kopi Sridonoretno sebagai salah satu bagian kopi Dampit,” kata Sukri, panggilan akrabnya.

    Sukri mengisahkan, sebelum tahun 1980-an kopi Dampit sebenarnya merajai pasar kopi internasional. Hanya saja setelah itu, kualitas kopi Dampit terus menurun karena tidak dibina dengan baik. “Petani tidak lagi petik merah, misalnya, sehingga kualitas terus menurun,” katanya.

    Miliki pasar

    Penguatan nama menurut petani asal Bumi Aji, Kota Batu, Wahyu Eko Purwanto, penting karena kopi asal Malang sudah punya pasar. Saat ini adalah momentum kembalinya kejayaan. Sejumlah pengusaha kopi Jakarta mulai melirik kopi asal Malang.

    “Permintaan dari beberapa pemain kopi di Jakarta terhadap kopi asal Malang mulai meningkat. Masalahnya, terkadang petani belum paham standar kopi yang diinginkan pembeli,” ujarnya.

    Sekretaris Jenderal API Muhammad Nuruddin menilai, masih ada kebiasaan buruk petani di Malang, yaitu memproduksi kopi dengan cara tidak benar, misalnya memetik kopi secara asal-asalan. Penyebabnya, tidak ada insentif dari pengusaha kepada petani yang berjuang menjaga mutu. Usaha petani yang melakukan petik merah kurang dihargai.

    Dengan model menghimpun diri dan berorganisasi bersama, menurut Nuruddin, petani bisa saling menjaga untuk tetap memproduksi kopi berkualitas baik. Kopi berkualitas memiliki nilai tawar lebih tinggi. “Di sinilah peran komunitas, baik petani, jaringan kopi, maupun lembaga pendamping,” kata Nuruddin.

    Selain memperbaiki kualitas kopi, produksi kopi asal Malang juga terkendala penurunan luas lahan. Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Malang Budi Widodo mengungkapkan, sejak 2013 hingga 2016, luas lahan kopi robusta di Malang berkurang sekitar 2.000 hektar. Kini luas lahan kopi di Malang tersisa 15.000 hektar. (ger/dia)

     

    Sumber: https://kompas.id/baca/nusantara/2017/05/21/nama-kopi-dikuatkan/

    Read More »