“Sebuah Permata di Hamparan Zamrud Khatulistiwa” – Aliansi Petani Indonesia

    Keluarga Stevanus, Petani Kecil dari Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur

    Stevanus Carvalo (54) dan istrinya Brigitta (37), tinggal di DesaPajinian, Kecamatan Adonara Barat,Pulau Adonara. Anak-anak mereka terdiri dari Yovan (17), Ratih (11), Christin(5), dan Herman (3).

    Pajinian adalah sebuah desa kecil berpenduduk 278KK. Umumnya warga desa Pajinian bekerja sebagai petani ladang (90%), sisanya adalah nelayan, pegawai negeri sipil, dan lain-lain. Kebun yang mereka miliki adalah hasil pembagian dari pemerintah, masing-masing keluarga mendapatkan sekitar 2 hektar/KK

    Menurut sejarah, keluarga Pak Stevanus Carvalo adalah tuan tanah di desa Pajinian. Dahulu, kakek Stevanus adalah orang kepercayaan Raja Larantuka yang ditugaskan menjaga daerah-daerah kekuasaan raja. Pada tahun 2000, Pemda Kabupaten Flores Timur membayar sejumlah ganti rugi untuk permukiman dan kebun rakyat kepada ayah Pak Stevanus. Dengan serta ayahnya menolak. Meski memiliki banyak tanah, Pak Stevanus hanya menunjukkan sebagian miliknya yang kini menjadi kebun kangkung di tepi pantai.

    Sebagian besar penghasilan warga desa Pajinian berasal dari komoditas pertanian, seperti padi merah, jagung pulut, sorgum, kacang-kacangan, kacang mente, serta kopra.

    Setelah hidup merantau di Flores Barat (Ende), Pak Stevanus kembali ke tempat kelahirannya di Pulau Adonara. Ia mendapati lahan pertaniannya tinggal separuh. Sebagian separuh lahan lainnya sudah dikelola oleh saudara-saudara yang tinggal di desa Pajinian. Pak Stevanus kemudian membersihkan lahan tersebut agar tidak lagi menjadi sarang nyamuk. Ia mencoba menanam kangkung rawa. Ternyata setelah hujan turun, kangkungnya mulai tumbuh subur hingga menyebar ke lahan garapan di tepi pantai itu sekitar 75 meter x 60 meter. Separuh dari lahan itu ditanami pohon kelapa.

    Sementara itu Brigita, istri Pak Stevanus membawa kangkung ke pasar atau ibu-ibu pedagang “papelele” (pedagang kecil) itu datang ke ladang mereka. Harga 1 bak kangkung Rp.10.000, lalu mereka menjualnya kepada pembeli di pasar dengan harga Rp.15.000-Rp.20.000 per bak. Kadang dalam satu kali panen pada musim hujan ketika air cukup, kangkung pun tumbuh bagus, mereka dalam memanen 4 bak kangkung. Tetapi jika musim bunga atau buah, hasil panen kangkung tidak bagus sehingga mereka menggunakan kangkung itu sebagai pakan ternak babi.

    Sementara itu hasil dari buah kelapa, dijadikan kopra lalu dibawa ke pasar, dan ditimbang. Harga kopra di pasar dan di kebun agak berbeda, lebih tinggi harga di pasar.

    Ibu Brigita : anak pertama masih duduk di SMA di Wanadon, anak nomer dua duduk di kelas 5 SD, anak ketiga masih di TK, dan anak bungsunya yang masih berumur 3 tahun. Ibu Brigita, ibu rumah tangga yang bekerja membantu suami, membuat pakan babi, jika sore hari membersihkan kebun kangkung bersama anak-anak dan memetik kangkung agar esok paginya bisa dititipkan orang untuk dijual ke pasar. Harga 1 bak kangkung rata-rata Rp.10.000-Rp.15.000,harga 3-4 ikat kangkung adalah Rp.2000.

    Sumur ini saya bangun untuk persiapan pada musim kemarau untuk menyirami tanaman kangkung. Sedangkan pada muim penghujan, air di kebun bisa mencapai tinggi sepinggul orang dewasa, atau sekitar 1-1,5 meter dari permukaan air sumur sehingga kebun kangkung ini tidak akan terlihat.”Itulah yang saya katakan tadi, bahwa di sini menjadi sarang nyamuk karena genangan air ini. Dari sinilah nyamuk berasal,” ujar Pak Stevanus. Setelah berubah dari sarang nyamuk menjadi kebun kangkung, ikan-ikan pun berdatangan dan nyamuk hilang, karena jentik-jentik nyamuk dimakan ikan.

    Ia sudah mempersiapkan sebuah kolam ikan. Rencananya Pak Stevanus akan memelihara ikan di kolam berkedalaman 2-3 meter. Hal ini juga untuk meredam berkembangbiaknya nyamuk di tempat itu, sehingga tidak membahayakan perkampungan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari sarang nyamuk semula. Pak Stevanus memperkirakan bakal ada 500-1.000 ekor ikan yang dapat dipelihara dalam kolam itu. Ia menjelaskan, ikan bandeng dan belanak dapat dipelihara di daerah tersebut, dengan harga jual berkisar Rp.5000-Rp.7000 per ekor.Jika dia memperoleh 10-20 ekor, Pak Stevanus menganggap itulah nilai ekonomis buat keluarganya. Ia berharap mendapat bantuan dari teman-temannya untuk membuat kolam ikan itu.

    Selain menanam kangkung, kelapa, dan memelihara ikan di kolam, tak jauh dari kebun kangkung, Pak Stevanus juga mencoba menanam sorgum dan kacang panjang. Walau tanpa disiram namun hanya mengandalkan kelembaban, kacang panjangnya dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah. Pak Stevanus membiarkan serangga-serangga yang berguna untuk mengendalikan serangan hama, seperti semut merah yang dapat mengusir hama penghisap buah atau penggerek batang. Untuk meremajakan tanaman kacang panjangnya, Pak Stevanus menanam kacang panjang di tempat lain dengan lebih terencana dengan pembibitan dan penanaman yang lebih baik.

    Hasil kebun kelapa diolah menjadi kopra, kemudian di jual ke pasar dengan harga sekitar Rp.5000per kg, namun jika pembeli datang ke kebun harga kopra hanya berkisar Rp.4000-Rp.4500per kg. Memang lebih murah, karena mereka menjualnya kepada tengkulak, namun mereka tidak keberatan dengan harga itu mengingat dalam keadaan sulit mereka bisa meminta pinjaman kepada tengkulak untuk kebutuhan sehari-hari.

    Read More »