Aliansi Petani Indonesia Gelar Semiloka Sambut Hari Pangan Dunia – Aliansi Petani Indonesia

    LENSAINDONESIA.COM: Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia (12/10/12), Aliansi Petani Indonesia (API) DPD Jawa Tengah dan Trukajaya Salatiga menggelar semiloka dengan tajuk “Daulat Petani Atas Alat Produksi Langkah Awal Perwujudan Kedaulatan Pangan”, Senin (29/10/12).

    Acara yang dilaksanakan di ruang sidang II Pemkot Salatiga ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih, Khamdan Ambari (Badan Pertahanan Nasional Jateng), Ita Sulistiawaty dekan Fakultas Teknik Pertania Unika Semarang, Muhammad Fadil (Seknas API), Abdul Rokhim Mandanganu (Pegiat Tani Jawa Tengah).

    Dalam materi yang disampaikan, Rustri mengatakan pemerintah Jawa Tengah juga berupaya untuk menanggulangi krisis pangan dengan program Diversifikasi pangan yang sekarang sedang galak dilakukan pemerintah Jateng.

    “Sekarang pemerintah sedang gencar membangun kesadaran kearifan pangan lokal dan menjadikannya produk yang berkualitas, sehingga mampu memberikan kontribusi bagi terciptanya kedaulatan pangan kita,” paparnya.

    Ketua panitia, Syukur Fahrudin (Shondhey) API Jateng, mengatakan sudah saatnya pemerintah bergabung dengan ormas-ormas tani dan masyarakat guna mempersiapkan diri untuk menghadapi krisis pangan dan mewujudkan kedaulatan pangan bagi daerah-daerah yang berpotensi.

    Lebih lanjut Shondhey juga mengharapkan agar alat produksi yang menjadi kunci vital bagi petani berupa tanah garapan lebih diperhatikan pemerintah. “Sudah saatnya pemerintah bekerjasama dengan ormas-ormas tani dan juga masyarakat sipil, dalam rangka menghadapi krisis pangan yang melanda dan dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan,” tandasnya. @Sigit

    Source: http://www.lensaindonesia.com/2012/10/29/aliansi-petani-indonesia-gelar-semiloka-sambut-hari-pangan-dunia.html

    Read More »

    Pesan Solidaritas dari Wakil-wakil Masyarakat Dunia – Aliansi Petani Indonesia

     

    “Di seluruh dunia, petani, produsen kecil terus menanam dan mendistribusikan pangan sehat di masyarakat mereka dan memberi pangan kepada dunia,” ujar Zainal Arifin Fuad, perwakilan delegasi La Via Campesina dalam pidatonya. La Via Campesina (LVC) adalah gerakan petani keluarga, masyarakat asli, nelayan, dan produsen pangan skala kecil di tingkat dunia. “Mereka adalah petani-petani keluarga yang menyediakan pangan bagi 75 persen penduduk dunia. Oleh karena itu, peringatan Tahun Internasional Pertanian Keluarga penting bagi kami untuk meningkatkan perhatian dunia kepada sektor penting ini”.

    Pertanian Keluarga ini sangat berseberangan dengan pertanian industri pangan komersial yang mengutamakan pada keuntungan dan spekulasi, serta menerapkan strategi yang membuat pertanian semakin tergantung pada input-input beracun yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan. Keadaan itu justru makin meningkatkan keuntungan dari penjualan bahan kimia dan input yang menyebabkan perusakan sumber daya alam dan produksi pangan yang dihasilkan oleh petani kecil dan pertanian keluarga.

    “Kita telah menyaksikan krisis pangan yang parah yang membawa perhatian kepada produksi pangan berbasis petani kecil dan penghapusan kelaparan di dalam agenda PBB,” ujar Zainal yang juga berasal dari Serikat Petani Indonesia (SPI). “PBB telah mengakui peran penting petani baik perempuan maupun laki-laki dalam tugas sulit ini”.

    Krisis Agraria Mendera Petani Kecil di Seluruh Dunia

    Kasus bunuh diri petani-petani keluarga dari seluruh dunia semenjak tahun 1995 hingga hari ini tercatat disebabkan oleh parahnya krisis agraria. Di India, negeri ini menjadi kuburan besar bagi 300.000 petani yang terpaksa mengakhiri hidup mereka akibat meningkatnya cengkeraman industri yang mengendalikan sektor pertanian India dan menghancurkan pasar dengan bantuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Kesepakatan Perdagangan Bebas (FTA) serta diperburuk oleh ketiadaan perlindungan negara kepada pertanian keluarga. Selain itu, pencaplokan lahan di India dan bentuk-bentuk lain alih lahan di seluruh dunia seperti di Afrika dan Amerika Selatan untuk tujuan industri pertanian membuat jutaan petani tuna kisma dan matapencaharian mereka terancam.
    Sementara di Thailand yang berada di bawah kekuasaan militer, masyarakat asli dan penduduk yang tinggal di hutan terus terancam tersingkir. Upaya-upaya penyingkiran mereka harus dihentikan, hutan harus dibebaskan dari perusahaan dan industri. Dan masih banyak kriminalisasi yang dialami oleh petani di seluruh dunia menyusul konflik tanah antara petani dengan investor dan perusahaan-perusahaan transnasional.

    Oleh karena itu LVC mendorong keterlibatan lembaga-lembaga internasional, pemerintah nasional, masyarakat sipil untuk menerapkan kebijakan yang memperkuat dan mendukung pertanian keluarga. Kebijakan tersebut antara lain:
    • Akses dan kendali petani dan produsen pangan skala kecil atas sumber-sumber produktif seperti tanah, air, benih, dan keuangan
    • Reforma Agraria Menyeluruh, termasuk demokratisasi tanah, penciptaan lapangan kerja, perumahan, produksi pangan. Reforma Agraria ini tidak hanya terbatas pada pendistribusian tanah, tetapi juga meliputi hak atas tanah yang mengakui hak-hak masyarakat asli atas wilayah mereka, yang menjamin akses komunitas nelayan dan penguasaan atas ekosistem dan perikanan, yang mengakui hak dan penguasaan atas jalur migrasi ternak dan padang penggembalaan.
    • Menghentikan diskriminasi atas perempuan petani dan perempuan buruh di pertanian, berupa kesetaraan hak mereka dengan laki-laki.
    • Mendukung akses pemuda untuk bertani (akses tanah, kredit, program pelatihan agroekologi)
    • Mengutamakan sistem pangan dan pasar lokal serta stabilisasi pasar untuk harga yang adil bagi petani dan konsumen, pengendalian impor, pengadaan barang publik, cadangan dan distribusi pangan rakyat.
    • Pengakuan atas hak petani dan produsen kecil, serta perlindungan petani terhadap produksi yang didorong perusahaan, perampasan tanah, dan produksi bahan bakar dari pertanian (agrofuel) skala besar.
    • Metode-metode produksi agroekologi berbasis petani yang penting dalam pemanfaatan sumberdaya lokal dan sumbangan terhadap pemecahan masalah krisis perubahan iklim.

    Read More »

    Konsultasi dan Debat Publik Terbesar di Dunia World Wide Views 2015 – Aliansi Petani Indonesia

    JAKARTA, API — Indonesia kembali  menjadi bagian ajang  konsultasi dan debat warga Negara, lintas Negara dengan nama kegiatan Word Wide Views on Climate and Energy di Universitas Katolik Indonesia ATMA JAYA, (Jakarta, 6 Juni. 2015).

    Perwakilan dari warga negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sudah menjadi bagian penting dalam konsultasi publik terbesar yang pernah sering diadakan di Indonesia, dengan tema perubahan iklim dan energy. Hadir juga dari Aliansi Petani Indonesia (API), dan Komite Nasional Pertanian Keluarga, hingga masyarakat Marjinal (Anak-jalanan), masyarakat Adat dan berbagai banyak kalangan dari latar belakang yang berbeda terlihat mereka melebur menjadi satu dalam forum yang di selenggarakan. Keterlibatan mereka sangatlah penting sebagai perwakilan masyarakat yang terpilih untuk mencerminkan keragaman demografi di Indonesia dan juga sebagai-bagian dari perwakilan masyarakat serta rakyat dibelahan muka bumi ini yang terpilih dan mau perduli sebagai individu, forum ini juga menjadi ajang aspirasi masyarakat dari akar-rumput(grassroots) dan mereka juga diberi ruang untuk memberikan Kontribusinya dalam World Wide Views on Climate and Energy, dengan cara sudut pandang mereka, dengan pengetahuan yang ada, yang mereka lihat dan dengar hingga merasakannya sebagai eksistensi penduduk bumi di planet ini.

    World Wide Views on Climate and Energy (WWViews on Climate Energy) adalah sebuah konsultasi masyarakat dunia yang dilakukan secara global, yang akan memberikan informasi tentang bagaimana pemahaman masyarakat di seluruh dunia tentang perubahan iklim dan pemanfaatan transisi energi. Negara atau wilayah yang berada di bagian timur bumi mulai terlebih dahulu, termasuk Indonesia, dan kemudian dilanjutkan dengan negara-negara yang berada di belahan bumi sebelah barat. Saat ini, sebanyak 106 wilayah dari 80 negara di dunia telah menyatakan untuk melaksanakan konsultasi publik WWViews ini.

    Seluruh warga negara di dunia yang mengikuti debat konsultasi publik ini akan menerima informasi yang sama, baik sebelum kegiatan dilaksanakan maupun pada saat konsultasi publik berlangsung. Informasi tersebut berisi pernyataan pro dan kontra, serta pendapat tentang kebijakan perubahan iklim dan energi serta informasi tentang target dan evaluasi kebijakan tersebut. Seluruh kegiatan mengikuti panduan dan agenda yang sama untuk seluruh negara agar hasil konsultasi yang berupa pendapat masyarakat dapat dibandingkan antar negara.

    Masyarakat akan menyatakan pendapat pribadinya pada pertanyaan yang sama dengan yang akan ditanyakan kepada warga negara yang lain. Pertanyaan yang akan diajukan telah disusun untuk mencerminkan kontroversi saat negosiasi di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dan diskusi politik secara umum tentang perubahan iklim dan energi. Hasil debat dan konsultasi publik ini akan dipublikasi real-time (saat kegiatan sedang berlangsung) melalui perangkat web-tool. Perangkat ini mempermudah eksplorasi dan perbandingan hasil konsultasi publik yang berupa pendapat pribadi perwakilan masyarakat Indonesia sehingga dapat langsung dibandingkan dengan pendapat masyarakat dari negara lain, seperti contoh kita dapat membandingkan dengan mudah pendapat dari negara sedang berkembang dengan negara maju, ataupun juga membandingkan pendapat masyarakat dari sesama Negara-negara berkembang.

     

    Read More »