Dialog API Jawa Timur bersama Legislatif / Eksekutif Kabupaten Blitar – Aliansi Petani Indonesia

    Saat ini tercatat sekitar 3 miliar penduduk dunia tinggal di perdesaan. Mereka kebanyakan berasal dari keluarga-keluarga yang melakukan kegiatan pertanian, disebut pertanian keluarga (Family Farming), di mana suami dan/atau istri bersama anggota rumah tangga terlibat secara langsung dalam kegiatan usaha tani (termasuk beternak, memelihara/menangkap ikan, menggembala ternak, mengumpulkan hasil hutan non kayu dan lain-lain), dan kegiatan tersebut menjadi sumber utama penghasilan keluarga. Setengah dari jumlah itu, sekitar 1,5 miliar perempuan dan laki-laki petani hidup dari lahan kecil kurang dari 2 hektar, 410 juta orang mengumpulkan hasil hutan dan padang rumput, sementara 100-200 juta orang menjadi penggembala ternak, 100 juta orang berprofesi sebagai nelayan kecil, serta 370 juta lainnya merupakan kelompok masyarakat adat yang sebagian besar bertani. Selain itu, masih ada 800 juta orang bercocok tanam di perkotaan. Keluarga-keluarga petani kecil itu terbatas aksesnya ke lahan dan permodalan, serta teknologi untuk menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian yang bernilai ekonomi dan bermartabat.

    Itulah gambaran penduduk dunia yang melakukan pertanian keluarga. Pertanian Keluarga sesungguhnya menghadirkan nilai strategis, karena pertanian keluarga memiliki fungsi-fungsi ekonomis, sosial, budaya, lingkungan, dan kewilayahan (teritori).

    Perempuan maupun laki-laki semua terlibat dalam pertanian keluarga yang  menghasilkan 70% pasokan pangan dunia. Pertanian keluarga merupakan basis produksi pangan yang berkelanjutan, berupaya mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan, pengelolaan lingkungan/lahan dan keanekaragaman hayatinya secara berkelanjutan, serta menjadi basis pelestarian warisan sosial-budaya yang penting dari bangsa-bangsa dan komunitas perdesaan. Oleh karena itu, pada 5-7 Oktober 2011, sebuah deklarasi yang bernama Final Declaration of Family Farming World Conference menetapkan tahun 2014 sebagai Tahun Internasional Pertanian Keluarga (International Year of Family Farming/IYFF), yang mengakui pentingnya peran Pertanian Keluarga dalam mengentaskan kemiskinan dunia.

    Selanjutnya untuk mendorong pemerintah di berbagai negara agar mengembangkan kebijakan publik, perencanaan partisipatif untuk dialog kebijakan yang mendukung pertanian keluarga, mendorong terciptanya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang keragaman dan kompleksitas produksi dan konsumsi dalam sistem pertanian keluarga, serta memahami perkembangan pertanian terkait dengan tantangan dan peluang untuk mencapai kedaulatan pangan, maka dibentuklah Komite Nasional Pertanian Keluarga (KNPK). Hingga saat ini sudah terbentuk sekitar 40 KNPK di seluruh dunia, salah satunya di Indonesia. KNPK Indonesia didirikan pada 4 Juli 2014 yang beranggotakan organisasi-organisasi petani-nelayan, LSM, dan akademisi yang berperan memajukan Pertanian Keluaga.

    Organisasi API(Aliansi Petani Indonesia) yang merupakan aliansi strategis dari berbagai pegiat pertanian di Jawa Timur, merupakan kumpulan anggota anggota Serikat Tani dari berbagai Kabupaten di JawaTimur. Yang  sedang melakukan advokasi dan pengawalan atas pelaksanaan implementasi empat kebijakan publik. Baik itu Undang-undang  Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, Undang-undang No 6 Tahun 2014 tantang Desa, serta regulasi yang terkait dengan pembiayaan untuk petani.

    Read More »

    “Membangun Kemitraan yang Berkeadilan Bersama Petani” – Aliansi Petani Indonesia

    Peluang Dan Strategi Advokasi Kepada Pihak Swasta dalam Membangun Kemitraan yang Berkeadilan Bersama Petani[1]

    Muhamamd Nuruddin[2]

    1. Latar Belakang Konteks

    Petani skala kecil di Indonesia menghadapi tantangan yang besar dikarenakan ketidak mampuan mereka dalam melakukan penetrasi pasar. Hal ini bukan karena produk-produk mereka tidak diminati, tetapi karena kurangnya pemahaman dan terbatasnya pilihan yang dimiliki dalam hal pemasaran. Membangun kemitraan melalui strategi pemasaran bersama (collective action) di antara petani selaku produsen dengan perusahaan adalah salah satu cara meningkatkan peluang akses dan penetrasi ke pasar yang dinamis. Dengan pemasaran bersama, tindakan kolektif petani dapat mengurangi biaya transaksi, petani skala kecil dapat mengakses input dan output pasar, disamping itu juga dapat melalukan efisiensi dan menggunakan tehnologi tepat guna untuk meningkatkan nilai tambah. Selain itu, pemasaran bersama dapat menyebabkan peningkatan daya tawar dalam negosiasi dengan pembeli dan perantara.  Terhadap latar belakang ini potensi, keuntungan, dukungan dari kelompok tani dan kelembagaan ekonominya dapat mempengaruhi agenda kebijakan pemerintah.

    Meskipun terdapat keberhasilan petani skala kecil melalui pemasaran bersama namun juga ada kegagalan dikarenakan ketidak mampuan mereka dapat mengelola dinamika internalnya yang membuat jatuh bangunnya organisasi ekonomi petani skala kecil. Ada tiga kategori variabel, termasuk karakteristik kelompok, pengaturan kelembagaan dan lingkungan eksternal yang menentukan fungsi tindakan kolektif dan relevan dalam konteks akses pasar petani. Aspek utama dari fungsi tindakan kolektif adalah menjawab nilai-nilai sosial dengan apa yang kita sebut dengan komitmen. Hal ini berlaku ketika lembaga pemasaran bersama berhasil dikembangkan, sejauh mana anggota kelompok berkomitmen untuk lembaga pemasaran bersama.

    Komitmen anggota dapat dianggap sebagai perilaku yang menentukan loyalitas sebenarnya anggota. Karakteristik kelompok petani dalam dimensi gender, keragaman tingkat pendidikan dan usia, penguasaan luasan lahan kepemilikan, dan aturan main dalam kelembagaan pemasaran bersama serta pengaruh lingkungan luar  akan mempengaruhi fungsi tindakan kolektif melalui lembaga formal. Misalnya seperti aturan, denda, dan peraturan atau melalui norma-norma sosial, nilai-nilai bersama dan kebiasaan. Kelembagaan pemasaran bersama dapat menciptakan insentif dan kontrol, mendorong anggota kelompok untuk bersikap terhadap kepentingan bersama atau tujuan. Pertama, kelembagaan sosial petani dan kelembagaan pemasaran bersama secara agregat dan bertahap secara informal memperkuat kohesi internal, yang ditandai dengan fokus pada tujuan seperti kegiatan budidaya dan pemasaran  serta menjamin adanya akuntabilitas organisasi. Kedua, kelembagaan petani menciptakan tegaknya aturan atau mekanisme timbal balik antara organisasi dan anggotanya.

    Aturan main atau mekanisme organisasi sebenarnya untuk menjaga reputasi kelembagaan petani disamping itu juga sebagai alat kontrol dari kemungkinan  menerima bantuan dari orang atau lembaga lain, yang akan membuat seseorang dalam jaringan sosial berperilaku loyal dan dipercaya, dengan demikian, menghindari perilaku oportunistik. Ketika anggota berkomitmen untuk lembaga pemasaran bersama, yaitu fungsi tindakan kolektif mereka dengan baik akan memiliki efek langsung pada kinerja organisasi. Anggota berkomitmen dan cenderung tidak akan melakukan penjualan samping (side selling), ketika terdapat harga atau layanan yang lebih baik yang ditawarkan oleh pembeli alternatif. Komitmen yang tinggi akan mengurangi biaya transaksi terkait dengan sanksi dan peraturan lembaga pemasaran bersama karena kemungkinan menghindari dari perilaku oportunistik.

    Gambar 1. Kepercayaan Untuk Mencapai Tindakan Kolektif[3]

    2. Kolektivitas Petani

    Gambar 2. Modal Sosial Dioperasionalisasikan dengan Kepercayaan Dalam Tiga Disiplin yaitu Ekonomi, Politik dan Sosiologi[4].

    Gambar 2 memperlihatkan modal sosial diwujudkan dengan kepercayaan dalam tiga disiplin ilmu yakni Ekonomi, Politik dan Sosiologi. Kepercayaan merupakan nilai-nilai sosial baik dari tradisi maupun dari agama yang dipelihara melalui pendidikan ditingkat keluarga, norma masyarakat dan kelembagaan agama dimana pelaksanaannya dengan adanya perilaku jujur, teratur dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama. Norma-norma dalam kelompok tani ini pula yang dianut oleh individu yang tergabung dalam koperasi-koperasi anggota Aliansi Petani Indonesia.

    Hasil pengorganisasian dan pemberdayaan petani yang dilaksanakan di koperasi-koperasi produksi anggota API menggambarkan adanya kemampuan dari komunitas petani dengan komoditas unggulan berhasil melaksanakan tindakan-tindakan kolektif (collective action) yang merupakan salah satu faktor utama keberhasilan pemberdayaan petani berbasis komunitas. Apa yang bekerja dalam tindakan kolektif di tingkat komunitas dikarenakan perpaduan faktor sosial, politik dan historis baik dari sisi internal dan eksternal dari komunitas yang bersangkutan. Pemberdayaan masyarakat berkaitan erat  dengan kapasitas masyarakat untuk menjalankan tindakan kolektif[5].

    Untuk mewujudkan tindakan kolektif petani, dibutuhkan daya kohesi komunitas, relasi sosial yang stabil, dan adanya hierarki yang mendasarkan pada relasi sosial dan klas, saling percaya dalam pola interaksi sosial yang saling bergantung satu dengan lainnya. Beberapa faktor yang turut andil sebagai peran katalis tindakan kolektif sehingga mengurangi sisi negatif atau dilema kolektivitas dapat diperkecil resikonya adalah, tindakan kolektif dalam kelembagaan kelompok tani dapat memperkecil biaya transaksi yang tinggi, adanya dukungan dari pihak pemerintah daerah, lembaga keuangan atau perbankan, dukungan dari offtaker yaitu perusahaan swasta (eksportir) yang bekerja sebagai inkubator bisnis dengan menjalankan peran sebagai  pendamping dari sisi teknis budidaya tanaman, keterkaitan dengan pelaku di luar komunitas petani yang juga menyediakan informasi harga, keahlian hingga sumber daya keuangan, serta memfasilitasi aturan internal agar lebih efektif dan lebih murah, hingga proses pengolahan paska panen tanaman sebagai komoditas unggulan dapat meningkatkan nilai tambah (value chain).

    Identifikasi beberapa faktor yang memfasilitasi kemunculan dan perkembangan tindakan kolektif untuk pemasaran bersama  produk unggulan dan terseleksi dan adanya peningkatan nilai tambah karena adanya relasi yang kuat antara tindakan kolektif dengan partisipasi petani dalam kegiatan pemasaran produk. Bagaimana koperasi-koperasi produksi anggota API yang terlibat dalam pengolahan paska panen dapat melobi ke pemerintah daerah dan pengusaha mampu membeli sarana dan pra sarana produksi atau peralatan berharga karena dengan adanya tehnologi pengolahan produk dapat meningkatkan nilai tambah, mencapai harga yang lebih baik dan mengembangkan peluang pasar baru. Demikian pula dengan didirikannya koperasi dapat mengumpulkan sumber daya keuangan dari tabungan pribadi dan pinjaman dari kelompok atau mendapatkan tambahan biaya permodalan dari lembaga perbankan milik pemerintah. Dengan demikian,  tindakan kolektif melalui pemasaran bersama dapat mengurangi biaya transportasi sehingga para petani  dapat mengakses pasar yang lebih baik.

    Untuk mengakses pasar, para petani ahrus terorganisir melalui kelompok-kelompok tani dan mengembangkan lembaga pemaran bersama atau koperasi dikarenakan para offtaker atau pembeli lebih memilih untuk bertransaksi dengan petani semi pedagang atau tengkulak dan pedagang besar. Hal ini memberikan pengertian bahwa melalui tindakan kolektif dalam bentuk kelembagaan pemasaran bersama dapat membantu petani untuk memenuhi persyaratan ketat yang diajukan oleh pasar sekaligus dapat melakukan koreksi. Para offtaker atau pembeli mengapa lebih memilih bekerja dengan organisasi petani atau kelembagaan pemasaran bersama atau karena dinilai mampu menyediakan pasokan komoditas  yang lebih stabil, berkualitas dan dalam jumlah tertentu secara kontinyu dibandingkan bertransaksi dengan petani secara individu. Saluran pemasaran memerlukan biaya dan dengan tindakan kolektif petani dapat mengurangi biaya pencarian pasar.

    Gambar 3. Proses Bisnis Kopi Robusta Fine Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, Kabupaten Malang – Jawa Timur

    Pemasaran bersama yang dilakukan petani merupakan  tindakan rasional petani yang dilakukan oleh koperasi dan kelompok tani untuk mencapai tujuan bersama dengan mengembangkan modal sosial yang ada di tingkat akar rumput. Faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan kolektif adalah peran dan tanggung jawab dalam lembaga pemasaran bersama, tingkat pendidikan dan usia petani, besar kecilnya biaya transaksi dan kualitas produk yang dihasilkan terkait dengan cara budidaya dan pengolahan paska panen yang dilakukan oleh petani.  Adanya pola dan sistem insentif untuk meningkatkan kualitas produk tanaman petani supaya memiliki daya saing tinggi dalam aspek tata niaga adalah melakukan kerjasama dengan pihak pemerintah dan offtaker. Peran dan sinergi multipihak antar pelaku dilakukan untuk mendapatkan insentif dan dukungan dari pemerintah melalui regulasi dalam bentuk perlindungan dan pemberdayaan petani dan dengan offtaker insentif melalui kualitas produk yang dihasilkan dengan mekanisme persyaratan yang diatur antar kedua belah pihak.

    Gambar 4. Keunggulan Kolektivitas Petani[6]

    Untuk memperkecil resiko atau dilema kolektivitas petani, pemerintah harus hadir dengan kebijakan dalam bentuk program publik yang pro petani skala kecil berupa kebijakan subsidi atau perlindungan petani dalam bentuk asuransi supaya menekan resiko yang dihadapi petani. Selama ini pendekatan pemerintah dalam mengintroduksikan berbagai program bidang tanaman pangan dan hortikultur serta tanaman perkebunan selalu kelompok. Namun untuk dapat mengakses bantuan permodalan, persyaratan yang diajukan oleh Dinas Koperasi dan UKM ditingkat pemerintah daerah adalah kelompok tani  harus sudah menjadi koperasi dan berbadan hukum. Pengalaman selama ini menggambarkan bahwa harga komoditas selalu ditentukan oleh pasar, tetap dibutuhkan kehadiran negara  supaya transaksi di pasar berkeadilan bagi petani. Pasar yang berkeadilan ditandai dengan ciri-ciri bahwa aktor atau pelaku utama yang melalukan tindakan atau kegiatan besar harus memperoleh bagian yang besar pula dalam setiap transaksi. Pasar selalu terbuka namun dapat dikoreksi dan kemampuan petani untuk dapat melakukan penetrasi ditentukan oleh kehadiran negara.

    Dengan pasar yang berkeadilan harapan untuk terwujudnya  kesejahteraan petani dapat dilaksanakan. Untuk menyejahterakan petani, negara dan pedagang harus berperan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Pemerintah sebagai representasi negara berfungsi sebagai pengawal transaksi di pasar. Selanjutnya, peran offtaker memberikan layanan dalam bentuk bantuan teknis mulai dari budidaya, pengolahan paska panen dan insentif harga sesuai dengan persaratan pasar yang dituju.

     


    Lampiran 1

    ALUR PRODUK MENUJU RETAIL MODERN

    Gambar Alur produk Menuju Pasar Modern

    Lampiran 2

    ALUR KERJA PENDAMPINGAN PRODUK UMKM

    Diagram Alur Kerja Pendampingan Produk UMKM

     


    Referensi

     

    Anonymous, Laporan Tahunan Aliansi Petani Indonesia, 2015

    Dewey, J. 1998. Budaya dan Kebebasan: Ketegangan Antara Kebebasan Individu Dan Aksi Kolektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Terjemahan dari buku berjudul Freedom and Culture

    Hayami, Yujiro dan Masao Kikuchi. 1987. Dilema Ekonomi Desa. Suatu Pendekatan Ekonomi Terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia. Terjemahan dari judul asli: Asian Village Economy at the Crossroads. An Economic Approach to Institutional Change. 1981. University of Tokyo Press. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

    Rokhani. et. al. Dilema Kolektivitas Petani Kopi: Tinjauan Sosiologi Weberian (Kasus Petani Kopi di Nagori Sait Buttu Saribu, Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara), Sodality, Jurnal Sosiologi Pedesaan, 2016

    Ostrom, E and T.K.Ahn. 2009. The Meaning of Social Capital and Its Link to Collective Action. Handbook of Social Capital. The Troika of Sociology, Political Science and Economics. Gert Tinggaard Svendsen and Gunnar Lind Haase Svendsen (Editors). UK: Edward Elgar.

     


    [1] Disampaikan dalam Diskusi Peluang dan Manfaat dalam Membangun Kemitraan yang Berkeadilan Bersama Petani dan Sektor Swasta, oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Tanggal 21 Mei di Hotel Permata, Kota Bogor

    [2] Sekretaris Jenderal Aliansi Petani Indonesia periode 2014-2020

    [3] Rokhani Dkk, Dilema kolektivitas Petani Kopi : Tinjauan Sosiologi Weberian. Jurnal Sodality 2016

    [4] Ibid.

    [5] Koperasi anggota API, Koperasi Koerintji Barokah Bersama, Koperasi Argo Makmur Tanjabbar, Koperasi Hanjuang, Pandeglan, Koperasi Mentari Sinar Alami, Tasikmalaya, Koperasi Trisno Tani Boyolali, Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama Kab. Malang, Koperasi Asnikom, Manggarai, Koperasi Primavera Bajawa, Koperasi Jantan, Flotim, Koperasi Amanah, Polman, Koperasi Kopi Toraja Sulsel.

    [6] Rokhani. et. al. Dilema Kolektivitas Petani Kopi: Tinjauan Sosiologi Weberian (Kasus Petani Kopi di Nagori Sait Buttu Saribu, Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara)

    Read More »

    Pemasaran Bersama Kakao di Polewali Mandar-Sulawesi Barat – Aliansi Petani Indonesia

    Mengroganisir Pengolahan Pasca Panen dan Pemasaran bersama Biji Kakao di Polewali Mandar-Sulawesi Barat

     

    Polewali Mandar, 14 Oktober 2019

    Aliansi Petani Indonesia (API) Memperkuat Organisasi Petani yang Tergabung Dalam Koperasi Amanah di Polewali Mandar di dalam Kelembagaan Koperasi, Pengolahan Pasca Panen dan Pemasaran Bersama Biji kakao, Sehingga Dapat Meningkatkan Akses Pasar dan Harga di Tingkat Petani Kecil di Polewali Manadar.

    Koperasi Amanah di Kabupaten Polewali Mandar bertujuan untuk menberikan layanan pemasaran kakao kepada anggotanya. Selaian pemasaran bersama layanan utama koperasi Amanah adalah melakukan pengolahan pasca panen dan memberikan pemberdayaan kepada petani melalui pelatihan dan sekolah lapangan untuk meningkatkan produksi dan pengedalian hana terpadu tanaman kakao. Saat ini anggota Koperasi Amanah mencapai 1600 petani sebagai produsesn kakao.

    Sejak Tahun 2009 hingga 2015 produktifitas kakao di polewali mandar sangat rendah. hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor budidaya tanaman diantaranya

    Tanaman kakao yang sudah tua, mayoritas pohon kakao di kebun-kebun milik petani telah berumur 15-25 tahun. Pohon-pohon kakao yang sudah tua selain produktifitasnya sangat rendah juga banyak yang terserang penyakit, seperti VSD dan jamur akar.

     

    Perubahan Iklim, pengaruh cuaca sangat signifikan mempengaruhi produktifitas kakao. Kemarau yang panjang dan curah hujan yang tinggi membuat bunga kakao banyak yang rontok.

     Bibit yang kurang unggul, sebagian besar petani masih mempertahankan tanaman yang sudah tua.  mayoritas belum melakukan rehabilitasi tanaman dengan bibit atau entrees pohon yang mempunyai produktifitas tinggi. Mereka khawatir dengan merehabilatisi tanaman kakao yang sudah tua akan membuat putus produksi dan bibit yang mereka gunakan tidak produktif. Sebagian Besar beranggapan bahwa tidak ada jaminan jika bibit atau entress yang digunakan mampu berproduksi lebih banyak.

     banyaknya serangan hama dan penyakit kakao, pengerak buah kakao (PBK), Helopeltis, Penggerek Batang, vascular streak dieback (VSD) adalah ancaman utama produktifitas kakao di Polewali Mandar.

    Sementara kabanyakan petani masih menjual biji kakao kepada tengkulak. Padahal jika biji kakao diolah dengan fermentasi akan meningkatkan harga 3000 perkilo. Tidak adanya pengolahan pasca panen dan ketergantungan dengan tengkulak maka harga ditingkat petani cenderung dipermaikan dan petani tidak punya nilai tawar terhadap tengkulak. Sementara dengan rantai pemasaran yang sangat pajang, harga biji kakao ditingkat petani rendah.

    Meningkatkan kapasitas Amanah di dalam Memperbaiki Produktifitas

     Untuk meningkatkan produksi kakao ditingkat petani tidak cukup hanya memberikan bantuan Pupuk, Alsintan kemudian semua masalah kakao dapat diatasi, tetapi membutuhkan pendampingan secara terus-menerus, sampai kelompok/Koperasi petani dapat menjalankan kegiatan usaha dan pelayanan anggota secara mandiri.

    Upaya untuk meningkatan produksi, API bersama organisasi Petani “Amanah” menyediakan sekolah lapangan budidaya tanaman kakao dan pengedalian hama terpadu kepada kelompok-kelompok tani. Melalui kegiatan ini API dan Amanah memberikan penyuluhan mengenai pembibitan tanaman kakao, seleksi entres dan pengedalian hama terpadu. API dan Amanah juga memberikan penyuluhan mengenai produksi dan aplikasi pupuk cair “Nutrisi Tanaman kako” untuk mencegah hama dan meningkatkan produksi. Selama kegiatan sekolah lapangan dan pelatihan-pelatihan kepada kelompok tani dibantu juga oleh Rikolta dan LSM Wasiat

    Sejak tahun 2016 hingga tahun 2018 kegiatan ini telah menjangkau 80 kelompok petani, 1000 petani sebagai anggota Amanah. Dengan kegiatan tersebut upaya pengedalian hama dapat dapat ditingkatkan. Hasilnya panen petani meningkat dari 808 kg menjadi 1320 kg per musim. Total Luas kebun yang dikelola oleh petani kecil sebagai anggota Amanah ±1600 hectar, potensi produksi saat ini 2.600 ton/musim.

    Dengan adanya kebutuhan petani terhadap pupuk cair “Nutrisi tanaman kakao”, maka Koperasi amanah juga memproduksi pupuk cair “nutrisi tanaman kakao” untuk melayani anggota. Oleh karena itu penggunaan pupuk cair ini menekan biaya pupuk dari Rp 4.000.000 menjadi 1. 500.000 per hektar.

    Meningkatkan Kapasitas Amanah di dalam Sertifikasi dan Pengolahan Pasca Panen

    Terdorong adanya peluang dan permintaan pasar API bersama dengan Rikolto dan WASIAT memperkuat Amanah di dalam sertifikasi dan pengolahan pasca panen. Melalui Sertifikasi dan Pengolahan biji kakao dengan fermentasi, Koperasi Amanah dapat meningkatkan harga kakao Rp 3000 per kilogram dari harga biji kakao asalan.

    Upaya untuk mendorong petani melakukan pengolahan pasca panen, maka selain insentif untuk petani, API bersama Amanah dan WASIAT memberikan pendampingan kepada kelompok-kelompok tani di dalam proses fermentasi kakao dan sertifikasi UTZ. jumlah biji kakao fermentasi yang telah diproduksi oleh Koperasi Amanah 200 ton per/musim. Sementara luas lahan yang tersertifikasi 100 hektar.

    Meningkatkan kapasitas Amanah di Dalam Pemasaran Bersama

    Selain masalah proiduktifitas, panjangnya rantai pemasaran menjadi hambatan dalam meningkatkan pendapatan atau penghasilan petani. Dengan kerjasama antara Petani yang terorganisir/Koperasi, petani dapat akses pasar yang lebih baik dan kerjasama dengan pihak Swasta.

    Oleh karena itu API bersama RIKOLTO memperkuat koperasi Amanah berkerjasama dengan pihak SWASTA. melalui layanan pemasaran bersama, petani mendapatkan insentif harga yang lebih baik. Petani mendapatkan nilai harga 95% dari harga yang ditetapkan oleh PT. Armajaro, PT. Bumi Tengerang, PT. MARS. Sedangkan 5% dari nilai harga yang ditetapkan oleh kedua PT. Tersebut digunakan sebagai biaya operasional dan biaya pengembangan kapasitas petani.

    Dengan memperkuat pemasaran bersama (kolective marketing), Koperasi Amanah telah berhasil mendekatkan petani kepada konsumennya. Disisi lain hal itu dapat mendekatkan Industri kakao pada petani sebagai produsennya. Sehingga, arus pasokan barang dapat dikontrol oleh semua pelaku dalam rantai. Dengan cara kerjasama ini petani telah mendapatkan harga yang lebih tinggi dan insentif, sedangkan perusahaan mendapatkan pasokan bahan baku kakao yang berkualitas dan berkalnjutan.

    Pemasaran bersama biji kakao melalui koperasi telah mampu meningkatkan harga di tingkat petani, juga petani mendapatkan pendidikan dan peningkatan. dengan sekema pemasaran bersama Perusahaan memberikan insentif 600 rupiah per kilo gram kepada Koperasi, diluar harga yang disepakati. Melalui insentif tersebut koperasi Amanah dapat memberikan pendidikan dan Penyuluhan serta membayar pendampin untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas kakao yang mereka hasilkan.

    Dampak dan Perubahan

    Dampat ekonomi, Melalui pengolahan pasca panen dan pemasaran bersama yang terorganisir petani dapat memperpendek rantai nilai dan memperkuat posisi tawar petani kakao di Polewali Mandar, sehingga petani mendapatkan harga yang lebih baik dan meningkatkan pendapatan mereka. Selain mendapatkan harga yang lebih baik,  petani kakao di Polewali Mandar dapat insentif berupa pendampingan, pendidikan adan pelatihan untuk meningkatkan produksi dan pengedalian hama terpadu. Mengingat hama adalah ancaman utama bagi produktifitas tanaman kakao di polewali mandar.

    Dengan dipekuatnya koperasi dan kelompok-kelompok tani, maka Koperasi Amanah dapat mengorganisir pemasaran 1200 ton per tahun. dan meningkatkan total dari pendapatan petani Rp 3,600,000 per tahun atau Rp 3.600.000 per hektar per tahun.

    #Rifai

     

    Read More »