Seknas Terendam Banjir, API Buka Posko – Aliansi Petani Indonesia

    Hujan sudah mendera Jakarta sejak pagi hari (15/01/2013) dan terus berlangsung hingga sore dan malam hari. Volume hujan yang nyaris merata dan konstan tak pelak menyebabkan genangan air di berbagai tempat. Sungai Ciliwung yang menjadi salah satu tumpuan sanitasi kota pun tak lagi mampu menampung debit air yang terus melonjak. Hal ini diperparah oleh timbunan sampah yang masih banyak terkonsentrasi di beberapa titik menghambat laju air dan menjadikan sungai luber secara tak terkontrol. Salah satu tanggul di daerah Latuharhari bahkan jebol lantaran tak kuat lagi menahan serbuan air yang terus meningkat.

    Sekretariat Nasional Aliansi Petani Indonesia (API) sebagaimana diketahui beralamat di Jl. Slamet Riyadi IV, berdampingan langsung dengan bibir sungai Ciliwung. Tak ayal lokasi ini pun tidak luput dari luapan sungai yang terus merangkak menjelang sore hari. Beberapa staf API yang berada di kantor berjibaku dengan kecepatan air yang mulai memasuki bagian dalam kantor. Berbagai perlengkapan elektronik, komputer dan dokumen-dokumen penting diangkut menuju lantai 2. Sementara buku-buku di perpustakaan serta berbagai dokumen pendukung masih di amankan di lantai bawah dan di letakkan di lokasi yang tidak terjangkau tinggi air. Sampai malam hari keadaan cukup stabil dengan ketinggian air sepinggang orang dewasa meski keadaan menjadi gelap gulita karena adanya pemadaman listrik. Rifai, Fadhil, Loji, Alim dan beberapa kawan dari FPPI bergantian berjaga mengantisipasi ‘serangan’ lanjutan mengingat beredarnya kabar naiknya debit di pintu air Katulampa, yang merupakan gerbang kiriman dari Bogor.

    Keesokan harinya (16/01/2013) ketinggian air ‘hanya’ naik beberapa sentimeter saja. Seluruh aktifitas kantor masih lumpuh. Komunikasi terkait kinerja dan organisasi hanya berlangsung menggunakan jaringan selular. Loji dan Fadhil mencoba mencari informasi terkait banjir yang melanda saat itu dengan berbagai kemungkinannya. Beberapa posko (crisis center) sudah tampak berdiri, baik oleh partai maupun LSM. Warga mengevakuasi kelengkapan rumah tangganya di beberapa lokasi di sepanjang jalan Slamet Riyadi IV. Menjelang sore hari air surut. Seknas API pun mulai berbenah, segera membersihkan genangan air dan lumpur serta sampah yang ikut masuk terbawa arus.

    “Serangan Fajar

    Sampai sekitar pukul 19.00 WIB keadaan kantor sudah tampak bersih, meski niatan untuk menata kembali perlengkapan kantor harus diurungkan demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Malam harinya seluruh awak API yang tertinggal untuk sementara dapat beristirahat dengan cukup tenang. Namun di luar dugaan, sekitar pukul 4.00 dini hari terdengar teriakan bahwa air sudah naik lagi dengan kecepatan tinggi. Seluruh penghuni seknas saat itu kontan berhamburan menuju lantai bawah. Dan benar saja, air sudah sampai setinggi perut orang dewasa.

    Serangan Fajar’ itu pun memaksa setiap orang di sana untuk kembali berjibaku sembari melawan dingin dan keruhnya luberan air Ciliwung itu. Berbagai benda sudah tampak terendam, termasuk sejumlah buku yang sengaja dikumpulkan jadi satu di atas dua meja rapat besar dan rak perpustakaan bagian atas. Batas toleransi air mengharuskan dilakukannya evakuasi total atas seluruh barang menuju lantai atas. Dari buku, dokumen hingga kulkas dan mesin cuci pun seluruhnya diangkut. Beberapa barang memang terlanjur terendam, termasuk salah satunya kamera digital inventaris API yang terletak di bagian atas locker, terkena genangan air.

    Hingga pukul 7.00 wib air terus beranjak naik. Jaringan listrik masih mati total. Evakuasi warga sekitar Seknas menuju salah satu sekolah di daerah Kebon Manggis tampak makin sibuk. Sejumlah rumah di bantaran sungai sudah mulai tenggelam. Dari diskusi ringan membaca situasi yang semakin tak menent, beberapa staff API mengambil keputusan untuk mendirikan posko banjir dan menggalang bantuan untuk warga. Komunikasi dengan elemen seperti FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) yang juga berkeinginan melakukan hal yang sama di daerah Matraman mempertemukan ide tersebut untuk menggalang posko bersama di pintu masuk Slamet Riyadi IV. Selanjutnya bergabung juga dalam barisan relawan ini kawan-kawan SOMASI (Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi – Universitas Nasional) dan Salud.

    Rapat koordinasi penggalangan bantuan dilakukan malam itu juga. Kesepakatan pun di ambil. Setiap elemen akan menghubungi berbagai jaringan yang dimilikinya untuk mengumpulkan sumbangan. Selain melalui telepon, blasting twitter, blackberry messanger dan facebook pun digunakan untuk menginformasikan keberadaan posko ini ke khalayak umum. Savic Ali, mantan Ketua Umum FPPI yang juga salah satu pengelola portal berita NU Online, membantu mensosialisasikan kegiatan tersebut melalui jejaring luas yang dimilikinya. Program penggalangan ini pun merembet dengan cepat, dan satu persatu berbagai dukungan pun kemudian datang. Baik itu berupa makanan, obat-obatan, kelengkapan bayi, selimut hingga pakaian bekas. Beberapa staff API pun berbagi tugas. Sebagian mengawasi Seknas dan sebagian yang lain membantu berjaga di posko. Nina, bagian keuangan API pun selanjutnya ikut “ngantor” tiap hari membantu aktifitas posko. Sementara Mbak Ika tetap menjaga gawang komunikasi kelembagaan API, mengawal keluar masuknya email dan mengupdatenya ke seluruh staff hingga tak sampai ‘buta’ perkembangan kinerja organisasi.

    Aktifitas crisis center “Posko Siaga Banjir” tersebut di luar dugaan menjadi sangat tinggi. Posko ini segera ‘dibanjiri’ berbagai barang yang mengalir dengan deras dari berbagai sumber. Tak lagi satu atau dua kardus barang bantuan, tapi satu hingga dua mobil box beberapa kali bongkar muatan. Panitia pun menyiapkan satu armada berupa mobil bak terbuka yang juga merupakan sumbangan dari salah seorang dermawan. Banyak di antara para penyumbang tersebut datang dari tempat-tempat yang cukup jauh dan mengaku mendapatkan informasi keberadaan posko ini dari twitter, termasuk dua orang mahasiswi UI yang mengaku secara khusus datang karena ingin bergabung menjadi relawan. “Saya mendengar keberadaan posko ini dari Twitter”, katanya. Hal yang sama diakui pula oleh seorang artis film dan sinetron, Risty Tagor, yang datang ke posko bersama beberapa orang rekannya dan menyumbang beberapa kardus berisi kelengkapan bayi dan makanan. Pesohor yang dikenal melalui film Pocong 2, Perempuan Berkalung Sorban dan beberapa sinetron seperti Safa dan Marwah serta kemilau Cinta Kamila itu, mengaku mengetahui berita keberadaan Posko ini juga dari jejaring sosial Twitter.

    Bantuan yang terus datang ditabulasi secara rinci dan disiarkan melalui jejaring sosial untuk menjaga kepercayaan publik. Beberapa kali bantuan didistribusikan langsung pada warga sekitar berdasarkan kebutuhan-kebutuhan mereka. Meski sangat melelahkan, proses distribusi ini secara umum berlangsung cukup lancar. Warga dan jajaran aparat sangat mengapresiasi keberadaan posko ini sebagai bentuk kepekaan dan tanggap darurat atas lingkungan sekitar.

    Bersih-Bersih Jilid II

    Banjir sudah menyebar di berbagai tempat di Jakarta. Status Ibukota Siaga 1 pun sudah diumumkan dari istana negara beberapa waktu sebelumnya. Seknas API masih tergenang hingga 20/01/2012. Sore harinya air baru mulai surut. Selain melanjutkan beraktifitas di posko, beberapa awak API pun mulai membersihkan genangan air dan lumpur yang jauh lebih tinggi dari gelombang pertama. Peralatan seperti cangkul digunakan untuk mengeruk lumpur yang nyaris memenuhi setiap sudut ruang kantor. Meski akhirnya pekerjaan bersih-bersih tersebut selesai dilakukan, tapi berbagai benda yang menggunung di lantai atas masih belum berani di diturunkan menyusul peringatan dini BMKG yang memprediksi kecenderungan negatif yang masih memungkinkan terjadi.

    Hingga 21/01/2013, Posko Siaga Banjir masih bertahan karena aliran bantuan yang masih juga belum berhenti. Setelah melakukan koordinasi seperlunya, dengan mempertimbangkan berbagai hal terkait normalisasi kantor, termasuk juga menghindari persepsi masyarakat yang kurang menguntungkan, akhirnya pada malam itu pula posko disepakati pindah ke daerah Matraman dengan ujung tombak pengelolaan oleh FPPI.  Kesepakatan ini diambil setelah proses distribusi di daerah Slamet Riyadi IV dianggap sudah lebih dari cukup, dan barang dialihkan ke berbagai titik yang lebih membutuhkan di wilayah Jakarta seperti Penjaringan, Pluit dan sebagainya. Hingga berita ini diturunkan sejumlah titik telah disupplay dari posko ini, di antaranya meliputi Bidara Cina, Penjaringan, Grogol, Muara Baru, Pluit dll. Untuk Daerah Slamet Riyadi IV sendiri kegiatan ditutup dengan kegiatan recovery kesehatan pasca banjir yang difasilitasi posko API dengan kerjasama team medis sebuah program CSR. Terkait dengan kegiatan ini Seknas Aliansi Petani Indonesia (API) mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan dan partisipasi masyarakat Jakarta dalam ikut meringankan beban sesama. Secara khusus Seknas API juga appreciate dan angkat topi setinggi-tingginya bagi segala bantuan tenaga dan pikiran kawan-kawan FPPI, SOMASI dan SALUD: Savic Ali, Togar, Fany, Mukhlis, Wawan, Aryo Soltig, Arief, Ardian, Mita, Bomay, Adi serta semua kawan yang tak bisa kami sebutkan satu persatu. Trimakasih. Keep on spirit! [] LOJI

    Read More »

    Api & TWN Gelar Southeast Asian Agroecology Course – Aliansi Petani Indonesia

    Tantangan dan trend dalam ketahanan pangan dan perubahan iklim sangat besar, dan agroekologi semakin diakui sebagai masa depan. Agroekologi yang menggunakan konsep ekologi dan prinsip untuk mendesain dan mengelola sistem pertanian berkelanjutan telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, dan memiliki potensi jauh lebih besar dalam mengatasi kelaparan, terutama pada masa ekonomi dan iklim yang tidak menentu.

    Menyadari perlunya pengembangan kapasitas dalam agroekologi di kawasan ini, TWN and API akan mengadakan pelatihan untuk melengkapi aktor-aktor kunci dengan pemahaman yang komprehensive mengenai agroekologi, prinsip-prinsip dan bukti-bukti yang ada. Hadir sebagai narasumbernya adalah Profesor Miguel Altieri dan Dr. Clara Nicholls, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Mereka dikenal sebagai pionir dan ahli dalam agroekologi serta telah mempublikasikan banyak tulisannya berkaitan dengan hal tersebut.

    Pelatihan akan mencakup tema-tema seperti berikut ini:

    • Agroekologi dan planet pangan, energy, ekonomi dan krisis social (Agroecology and the planetary food, energy, economic and social crisis)
    • Prinsip dan konsep agroekologi: basis ilmiah (Principles and concepts of agroecology: the scientific basis)
    • Peranan agroekologi dalam keragaman di agro ekosistem (The ecological role of biodiversity in agroecosystems)
    • Keragaman hayati dan manajemen hama (Biodiversity and insect pest management)
    • Ekologi dan manajemen tanah (Soil ecology and management)
    • Kerangka ekologi dalam penyakit dan hama tanaman (Ecological basis of disease and weed management)
    • Alasan-alasan ekologi untuk mengkonversi ke pertanian organik (Agroecological basis for the conversion to organic farming)
    • Agroekologi, perkembangan pertanian skala kecil dan kedaulatan pangan (Agroecology, small farm development and food sovereignty)
    • Agroekologi dan ketahanan pada perubahan iklim (Agroecology and resiliency to climate change)

    Pelatihan bertema Southeast Asian Agroecology Training Course yang rencananya digelar di Solo pada 5-9 Mei tersebut juga akan dilengkapi dengan kunjungan ke lapangan yang rencananya akan mengambil tempat di salah satu anggota Api di Boyolali (APPOLI-Aliansi Petani Padi Organik Boyolali) untuk melihat pertanian agroekologi. Pelatihan ini akan diikuti oleh peserta yang bekerja dalam isu terkait agroekologi sebanyak sekitar 46 orang, 18 diantaranya adalah dari beberapa Negara-negara Asia Tenggara.

    Read More »

    API Mendorong BUMD Pangan – Aliansi Petani Indonesia

    Saat ini salah satu hal yang dibutuhkan petani padi adalah perlindungan harga gabah dan beras terutama di saat panen raya yang biasanya jatuh pada bulan maret-april. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa Harga Gabah yang dibeli di petani masih di bawah HPP yang ditetapkan pemerintah. Faktanya Bulog memiliki keterbatasan dalam menyerap gabah petani, kemampuan bulog masih di bawah 10% dari total produksi padi secara nasional.

    Rendahnya harga gabah di tingkat petani tidak otomatis harga beras di pasaran juga rendah. Sebagai contoh tahun ini harga beras di tingkat konsumen selalu di atas HPP yang ditetapkan pemerintah yaitu Rp 6.600. Ini menunjukkan bahwa mata rantai distribusi beras sangat panjang dan berliku. Tentu saja hal ini menguntungkan para pedagang, sementara petani dan konsumen berada pada posisi yang dirugikan.

    Melihat situasi ini, Aliansi Petani Indonesia memandang pemerintah perlu melakukan proses perlindungan harga terutama untuk para petani padi di Indonesia. Jumlah petani padi yang jumlahnya sekitar 15 juta rumah tangga saat ini masih memiliki pendapatan yang tidak layak. Dengan kepemilikan lahan rata-rata 0,25 ha, maka pendapatan per bulan hanya Rp 450.000,. Salah satu upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan petani adalah memberikan harga yang layak.

    Salah satu Upaya untuk perlindungan harga adalah melakukan penyerapan gabah secara maksimal di daerah-daerah sentra padi di Indonesia, Jika Bulog memiliki keterbatasan. Maka sebenarnya peran pemerintah daerah diperlukan untuk menghadapi situasi ini. Pemerintah daerah bisa membentuk BUMD pangan yang berfungsi sebagai stabilitator harga dan membantu memotong mata rantai distribusi beras yang terlalu panjang.

    LOKAKARYA BUMD PANGAN DI BREBES DAN BOYOLALI

    Pada bulan April dan Mei 2013 API melakukan lokakarya mengenai BUMD pangan di Brebes dan Boyolali, Lokakarya ini dihadiri oleh perwakilan organisasi petani, Peneliti dari PSEKP Kementan, Anggota DPRD, Dinas Terkait dan LSM. Dari lokakarya ini dapat disimpulkan bahwa Peluang Peranan BUMD sebagai salah satu pelaku untuk mewujudkan ketahanan pangan lokal  dan melakukan perlindungan harga gabah dan beras bagi petani cukup besar, karena :

    Satu, sesuai dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah (Pasal 6),  BUMD dapat bekerja sama dengan Pemda, Perusahaan Negara, koperasi dan swasta.

    Dua, BUMD dapat bergerak dalam banyak bidang usaha, yaitu jasa keuangan dan perbankan (BPD dan Bank Pasar), jasa air bersih (PDAM) dan berbgai jasa dan usaha produktif lainnya pada industri, perdagangan dan perhotelan, pertanian-perkebunan, perparkiran, percetakan, dan lain-lain. Berbagai fungsi dan peranan yang “dibebankan” kepada dan dilaksanakan oleh BUMD tersebut adalah: (a) melaksanakan kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan daerah; (b) pemupukan dana bagi pembiayaan pembangunan daerah; (c) mendorong peran serta masyaraakat dalam bidang usaha; (d) memenuhi kebutuhan barang dan jasa bagi kepentingan publik, dan (e) menjadi perintis kegiatan dan usaha yang kurang diminati swasta.

    Tiga,  untuk sumber pendanaan, tersedia banyak opsi sumber pendanaan yakni dari penyertaan modal dari pemerintah daerah setempat, saham dari masayarakat, meminjam dana komersial dari perbankan, serta juga dapat berupa pinjaman dari pihak swasta.

    Empat, Sebagai program daerah yang tentunya akan didukung oleh pemerintah saerah setempat, maka berbagai dukungan infrastruktur juga berpotensi untuk diakses. Pemerintah daerah memiliki asset berupa lahan dan prasarana yang bisa dipinjam atau dihibahkan. Dukungan infrastruktur yang dibutuhkan mulai dari lahan untuk pembangunan gudang dan huller, serta perkantoran dan kendaraan. Selain itu, dukungan riset juga bisa diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah setempat yang ada di setiap level provinsi.

    [nggallery id=6]

    Read More »

    Banjir, Seknas API Mantap Pindah – Aliansi Petani Indonesia

    Jakarta – Bencana banjir di Jakarta pada awal tahun 2014 makin meluas di berbagai titik menyusul iklim yang semakin ekstrim. Yakin akan terjadinya siklus banjir lima tahunan, API tidak terburu-buru memindahkan sekretariatnya meski pada tahun sebelumnya sempat direndam banjir hingga setinggi perut orang dewasa. Setiap orang menyangka bahwa banjir sebagaimana terjadi pada akhir 2011 dan awal 2012 itu baru akan terjadi lagi pada lima tahun kedepan. Meskipun ada luapan, hal tersebut tidak dikhawatirkan dapat mengganggu aktifitas Seknas karena volumenya yang tidak cukup signifikan. Namun setelah akhirnya pada penghujung tahun 2013 dan awal 2014 pintu air Manggarai, Jakarta berkali-kali harus dibuka lantaran tak kuasa menahan limpahan air dari Bogor dan Depok, Sekretariat Nasional organisasi ini pun terpaksa harus memantapkan diri bergeser ke tempat lain, dari yang sebelumnya beralamat di Jl. Slamet Riyadi IV no. 50 Kebon Manggis, berpindah ke Jl. Kelapa Merah No. 2 Utan Kayu Selatan, Matraman.

     

    ((Alamat baru)) Seknas Aliansi Petani Indonesia (API):
    Jl. Kelapa Merah No.2 rt 15/rw 12, Kel. Utan Kayu Selatan, Matraman, Jakarta Timur 13150, Indonesia.
    Official Website: www.api.or.id  Telp./Fax. +6221 8567935
    Email. [email protected], [email protected]

     

    Tak jauh beda dari tahun sebelumnya, banjir kali ini memaksa para penghuni Seknas berjibaku menyelamatkan dokumen dan berbagai kelengkapan kantor yang sebagian besar berada di lantai bawah. Upaya membersihkan lantai dan tembok dari lumpur banjir super tebal yang datang di penghujung bulan Desember pun akhirnya sia-sia setelah “serangan” kedua datang dan kembali merendam Seknas dengan volume yang makin tinggi. Barang-barang yang sudah diungsikan di atas meja rapat dan rak buku pada bagian atas pun akhirnya terpaksa harus dievakuasi menuju lantai dua. Hal ini untuk mengantisipasi luapan yang lebih besar dari sungai Ciliwung yang berada tepat di belakang dapur Sekretariat. Meski akhirnya banjir tak sampai benar-benar memuncak, keputusan pindah dirasa tepat mengingat banjir susulan yang beberapa kali terjadi lagi setelah usaha membersihkan lantai dan tembok dilakukan.

    Nyaris Dilalap Api

    Keputusan untuk segera pindah ini diambil tentunya untuk menghindari terhambatnya kerja-kerja Seknas dan menghindari hal-hal yang tak diinginkan. lebih-lebih pada sekitar bulan oktober 2013, dua bulan sebelum banjir tersebut datang, seluruh penghuni Seknas sempat dibuat kalangkabut oleh kebakaran besar yang melalap sedikitnya 23 rumah penduduk tepat di sebelah Seknas. Saat itu semua orang berkejaran dengan cepatnya gerak si jago merah untuk menyelamatkan barang-barang miliknya, termasuk para penghuni Seknas yang harus belingsatan mengevakuasi berbagai barang dan dokumen. Beruntung pemadam kebakaran segera datang dan mampu menaklukkan kebakaran tersebut untuk tidak jadi merembet ke semua hunian penduduk. Sebagai bentuk rasa syukur dan solidaritas, Seknas API pun menyumbang kelengkapan bangunan seperti semen, pasir dan bata untuk para korban kebakaran tersebut, selain menyediakan ruang pertemuan depan sebagai tempat pengungsian korban yang kehilangan rumahnya.

    Posko Banjir

    Meski sudah memiliki sekretariat baru yang lebih aman dari jangkauan banjir tidak lantas membuat Seknas lalai dan melupakan warga yang sedang dihantam musibah di bekas sekretariatnya yang lama. Bersama beberapa elemen pemuda dan mahasiswa (FPPI dan SOMASI) serta Jaringan GUSDURian jakarta, Seknas membuka posko Siaga Banjir di pintu masuk Jl. Slamet Riyadi (alamat Seknas lama). Dari para dermawan yang menyumbangkan berbagai kebutuhan seperti makanan, minuman, pakaian, susu bayi, obat-obatan dan sebagainya, posko ini secara bersama-sama dengan masyarakat setempat bekerjasama untuk saling meringankan beban akibat bencana banjir yang terjadi. Seperti tahun sebelumnya, posko yang dikelola secara kolektif ini menyalurkan bantuan bukan saja di wilayah sekitar posko, namun juga mengirimnya ke tempat-tempat lain yang membutuhkan, seperti bidara cina, kampung pulo hingga Penjaringan. Tak hanya itu, setelah  air surut dan warga kembali membersihkan rumah, posko bersama ini menyelenggarakan pengobatan gratis dengan mendatangkan tenaga medis dan dokter. Kegiatan tersebut sebagai upaya penanganan paska banjir yang biasanya sangat rentan dengan penyakit. Warga pun menyambut acara tersebut dengan antusias dengan mendatangi balai pengobatan gratis di ruang depan Seknas lama API yang disulap menjadi ruang medical check up dan pengobatan. Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan komunitas Ciliwung Merdeka. Sayang, dua hari setelah kegiatan ini digelar, banjir kembali datang dan meski dengan volume lebih kecil, tapi mampu merendam ratusan rumah di jalan Slamet Riyadi dan meninggalkan lumpur yang tebal di segala penjuru sekretariat. Alamaak. [Lodz]

    Read More »

    API Menggelar FGD di Tebo – Aliansi Petani Indonesia

    Jambi – ApiOnline. Seknas Aliansi Petani Indonesia menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bersama anggota Persatuan Petani Jambi (PPJ) di Kabupaten Tebo, Sumatra Selatan (11-16/2/14). Kegiatan yang melibatkan sedikitnya 70 orang tersebut digelar di sebuah dusun di lahan reclaiming bernama Tua Sakato, sebagai ruang konsultasi bersama untuk melakukan pemetaan atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh petani di tempat tersebut.

    Sebagaimana diketahui, konflik di Tebo yang melibatkan petani dan perusahaan sawit, PT Wira Karya Sakti (group Sinar Mas) telah berlangsung cukup lama. Pada Desember 2007 konflik pecah di Desa Lubuk Mandarsah, Kabupaten Tebo. Pada saat itu, beberapa alat berat PT. Wira Karya Sakti yang menggusur kebun karet dan sawit warga dibakar oleh petani. Karena aksi pembakaran ini, kemudian beberapa petani Desa Lubuk Mandarsah ditangkap dan ditahan oleh pihak kepolisian. Letupan yang terjadi saat itu juga telah memakan korban nyawa dari pihak petani. Proses penyelesaian konflik antara kedua belah pihak seringkali menemui jalan buntu sehingga menjadikan konflik semakin berlarut-larut. 

    Melalui inisiatif advokasi berbasis metodologi FACT (Farmers Advocacy Consultation Tool) API mengajak para petani di wilayah kabupaten Tebo tersebut untuk secara bersama-sama “membaca ulang” persoalan yang dihadapi dan mencari kemungkinan-kemungkinan terbaik untuk mencari jalan keluarnya. Beberapa tujuan utama dari kegiatan ini diantaranya, 1, Mengidentifikasi masalah atau isu yang dihadapi petani disektor pertanian. 2. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan petanian yang dilakukan oleh petani di wilayah konflik dan non konflik. 3. Mengetahui akses perempuan terhadap kegiatan pertanian di wilayah konflik dan non konflik. 4. Mengetahui inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh petani untuk penyelesaian konflik tanah yang sedang dihadapi. 5. Terdapatnya usulan kebijakan dari petani untuk menyelesaikan konflik pertanahan yang di hadapi.

    Selain terkait langsung dengan konflik lahan yang sedang dihadapi, API juga mendorong dilakukannya kegiatan-kegiatan ekonomi produktif bagi petani di wilayah tersebut, baik untuk tujuan ekonomi itu sendiri maupun sebagai bagian dari strategi untu perjuangan mempertahankan lahan garapan.

    Para petani yang membangun gubuk-gubuk di dusun Tua Sakato sebagai strategi mempertahankan lahan mengandalkan mata pencahariannya dari bercocok tanam ala kadarnya berupa tanaman padi dan beberapa tanaman tambahan lain seperti singkong dan jagung. Namun demikian tanaman-tanaman tersebut cenderung ditanam secara sporadis tanpa penataan dan pemeliharaan yang baik. Tanaman dibiarkan begitu saja tanpa pemupukan dan bentuk pemeliharaan-pemeliharaan lain. Dalam kaitan ini, API bermaksud membuat perencanaan untuk pertanian berbasis keluarga (family farming) yang tentu melibatkan bukan  saja kaum laki-laki, tapi juga perempuan (kaum ibu) untuk  mendayagunakan berbagai potensi yang ada demi memberi nilai tambah bagi ekonomi keluarga petani. Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan diantaranya upaya produksi pupuk alami dan penerapan pertanian alami (organic farming).

    Sebagai pra-kondisi rencana tersebut, keesokan harinya setelah penyelenggaraan acara FGD, para perempuan petani secara khusus melakukan pertemuan dengan difasilitasi oleh APPI (Aliansi perempuan petani Indonesia). Secara lebih terfokus diskusi santai dilakukan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh terkait berbagai potensi yang ada sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan tindak lanjut kegiatan di waktu yang akan datang. []Lodzi

    Read More »

    API Minta Alokasi APBN Untuk Sektor Pertanian di Naikkan – Aliansi Petani Indonesia

    TRIBUN-BALI.COM, NUSA DUA – Beberapa produk hasil pertanian seperti jagung, beras, kedelai, dan masih banyak lagi terlihat jelas dalam pamer di Expo Agraria Selasa (6/4/2014) siang di loby Hotel Santika Nusa Dua, Bali. Berbagai hasil pertanian yang berasal dari beberapa negara di Asia ditunjukan dalam pertemuan tersebut.

    Pada kesempatan tersebut, Aliansi Petani Indonesia meminta alokasi APBN untuk sektor pertanian dinaikkan menjadi 30 persen. Hal ini sengaja dilakukan mengingat sebagian besar masyarakat di Indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.

    Namun pemerintah hanya mengalokasikan kurang dari dua persen dari APBN. Atau hanya satu persen saja untuk pertanian. Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Aliansi Petani Indonesia (API) Mudzakir di sela acara Pertemuan Petani Se-Asia.

    “Sejauh ini API memandang masih belum adanya keseriusan dari pemerintah untuk mendukung para petani Indonesia. Hal ini terlihat dari alokasi APBN pemerintah yang sangat minium, yaitu kurang dari dua persen.” Tegas Mudzakir.(*)

    Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

    http://bali.tribunnews.com/2014/05/06/api-minta-alokasi-apbn-untuk-sektor-pertanian-di-naikkan

    Read More »

    Peringati Hari Tani, API Gelar Wayang Tani – Aliansi Petani Indonesia

    “Tanah adalah modal kami
    Pangan, kenapa petani musti beli?”

    Wayang merupakan seni pertunjukan yang tidak hanya berperan sebagai hiburan bagi masyarakat, namun juga sebagai sarana pendidikan dan kontrol sosial, yang digunakan sebagai media penyampai pesan, baik terhadap pemerintah maupun masyarakat, dengan elemen-elemen utama seperti Dalang (penggerak wayang), dialog antar tokoh (ginem), alur cerita (lakon) maupun unsur pertunjukan lain seperti lagu. Aliansi Petani Indonesia (API) – dalam rangka peringatan Hari Tani Nasional 2014 – menggelar pagelaran bertajuk Wayang Tani bersama komunitas COMDEV (Commedy Development) dengan mengetengahkan lakon bertemakan agraria dan usaha tani yang dikemas secara comedy-tragic, bertempat di Ballroom Hotel Oria, Jalan Wachid hasyim, Jakarta (22/9).

     Pertunjukan wayang bergenre kontemporer dengan media wayang dari bahan plastik bekas botol mineral dan mengandalkan efect pencahayaan tersebut menampilkan Lek Joem selaku dalang beserta seluruh awaknya. Ditonton tidak kurang dari 200 pasang mata pertunjukan tersebut berlangsung secara cukup meriah. Selain dihadiri oleh sebagian besar peserta Konferensi Nasional Reforma Agrari (KNRA), juga mendapatkan apresiasi dari beberapa pengunjung lain yang sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukan. Dalam sambutan membuka pagelaran tersebut, Sekjend Aliansi Petani Indonesia (API), M. Nuruddin, menyampaikan bahwa pendekatan estetika melalui media seperti wayang merupakan bagian dari upaya “menyentuh” kultur social yang memiliki keterkaitan integral dengan petani sebagai sebuah entitas sosial dan sejarah. “Wayang sebagai sebuah produk budaya masyarakat yang sudah berumur ratusan tahun tak dapat terpisah dari segala dinamika masyarakat yang membangunnya, yang hidup di pedesaan”, ungkap Nuruddin. “Estetika sengaja kita usung dalam peringatan Hari Tani Nasional saat ini sebagai sebuah upaya untuk menyentuh wilayah-wilayah yang mungkin selama ini luput dari jangkauan kita serta dengan cara ini kita dapat mengambil angle yang sekiranya dapat menyegarkan sudut pandang kita”, lanjutnya.

    Sementara itu Sekjend Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Iwan Nurdin, yang juga hadir malam itu mengajak para pengunjung yang hadir untuk merefleksikan berbagai kasus-kasus agraria yang sudah terjadi setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir. “Ada harapan pada pemerintahan yang baru untuk kita secara bersama-sama memperjuangkan cita-cita reforma agraria”, ungkap Iwan. “namun demikian kita musti tetap kritis dan mengawal arah perjuangan tersebut untuk cita-cita keadilan agraria”, lanjutnya. Iwan juga menyampaikan apresiasinya atas digelarnya wayang tani tersebut sebagai sebuah sumbangsih yang berarti dalam peringatan Hari Tani Nasional tahun ini.

    Kenapa Wayang?

    Wayang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia bernilai tinggi, sarat akan pesan dan nilai moral, baik secara tersurat maupun tersirat melalui simbol-simbolnya. Maka, kemampuan ini pula yang memungkinkan wayang tetap hadir sebagai sarana penyampai kritik sosial yang dapat disampaikan melalui beragam cara, baik dialog antar tokoh wayang, cerita, maupun lagu yang mengiringinya. Sebagai entitas estetika sekaligus seni yang unik, wayang mampu melakukan transformasi kultural dan mengangkat cerita mengenai isu-isu kekinian, yakni fenomena kehidupan nyata yang dialami oleh seluruh warga bangsa, termasuk di dalamnya petani Indonesia, baik dalam dimensi sosial, politik, ekonomi, maupun budaya. Media pertunjukan seni wayang mampu menyampaikan kritik sosial tersebut dengan cara yang sopan namun mengena. Seorang tokoh wayang bahkan dapat merujuk pada sosok tertentu di dunia nyata yang digambarkan berdasarkan sifat-sifat, karakter, bentuk fisik, peran dan sebagainya.

    Dalam konsep pertunjukan, Wayang adalah proses produksi makna kemudian pesan disampaikan kepada penonton. Dalam proses ini terjadi pertukaran antara masyarakat dan budaya melalui penandaan. Demikian pula, Wayang Tani membuat mekanisme penandaan tersebut melalui penokohan, lagu, bahasa, simbol-simbol, yang merujuk pada potret petani di Indonesia lengkap dengan berbagai persoalan dan dinamika baik ekonomi, social, politik dan budaya yang melingkupinya. Representasi petani adalah representasi produksi akan makna dari konsep-konsep di pikiran kita tentang petani dan kehidupannya melalui bahasa. Representasi petani adalah bagian inti dari proses produksi makna dan pertukaran antara masyarakat dan budaya mengenai sosok petani sebagai sebuah entitas di tengah pergumulan sosial, politik dan ekonomi berbangsa.

    ***

    Kisah Pak Ladang dan Konsep Wayang Tani

    Dalam konsep Wayang Tani di dalam pagelaran ini, setting waktu dan tempat adalah sebuah kampung “imaginer” dengan nama Desa Ketanen. Ketanen adalah bahasa Jawa yang diartikan sebagai petani. Dari petani inilah bangsa mulai dibangun. Dari petani bisa lantas menjadi apa saja yang ada di dalam masyarakat pedesaan. Dari petani mampu menjadi tentara, sarjana, intelektual, birokrat, pedagang dan kyai. Di desa Ketanen terjadi sebuah peristiwa politik mikro yang sesungguhnya merupakan gambaran politik ekonomi makro bangsa Indonesia. Kisah seorang petani, begitu besar jasanya untuk menghidupi segala macam manusia.

    Pak Ladang, suami dari Mbok Benih, merupakan petani gurem dimana lahan pertaniannya didapatkan dari kebijakan landreform tahun 1965. Tanahnya tinggal 0,25 hektar dan itu merupakan harta warisan yang didapatkan dari orang tuanya. Ada pengumuman dari pemerintah yang disampaikan oleh spekulan tanah (Belantik) bahwa lahan pertanian di desa Ketanen harus dilepas untuk kepentingan pemodal yang akan dijadikan – menurut desas desus – untuk industri pengolahan. Berbagai informasi, intimidasi dan bujuk rayuan dengan iming-iming kemewahan hidup hasil dari penjualan lahan pertanian. Pak Ladang tak begitu mudah percaya bujuk rayu para belantik dengan berbagi iming-iming dan janji kesenangan. Menjadi pengangguran, peluang alih profesi tentu tidak diharapkannya. Dalam kegoyahan hati tak mudah untuk bertahan. Tapi Pak Ladang dan keluarganya tak goyah: Tanah adalah daya hidupnya, ia menolak berbagai bujuk dan rayuan. Ia terus bertahan. Tak mau meninggalkan dunianya, dunia tani. Enggan untuk mau dibujuk rayu dengan segala fantasi kenikmatan bahwa segala kebutuhan hidup tinggal dikirim, tinggal beli. Mentalitas Pak ladang adalah bertani, berproduksi, panen dan beribadah, “berdaulat atas pangan”, demikian ia menegaskan prinsipnya. Tidak sekedar untuk mencukupi diri sendiri, tapi juga untuk banyak orang, mendekap erat alam… seperti yang diajarkan para leluhurnya dahulu.

    Apakah Pak ladang sebagai petani yang punya tanah satu-satunya sebagai harta yang paling berharga harus pergi meninggalkan desa para leluhurnya? Ia bertahan dan hanya mampu jadi petani. Inilah kisah seorang petani, bukan belantik, bukan penjarah lahan produktif!

    ***

    Pak Ladang Sebagai Representasi Petani Kebanyakan

    Pak Ladang merupakan gambaran umum petani lainnya yang ada di Indonesia. Pak Ladang adalah petani gurem dan diguremkan oleh struktur sosial politik yang menindas. Dalam perdagangan bebas pertanian yang tidak melindungi kaum tani, makin menambah kesusahan hidup dan menunjukkan bahwa mereka miskin dan semakin dimiskinkan oleh negara dengan mencabut hak atas tanah bagi petani. Keadaan Pak Ladang yang seperti itu bukan membuatnya makin terpuruk pada keadaan, namun justru membuatnya bangkit dengan kemampuan seadanya untuk tetap melawan keadaan dengan terus menebarluas wacana perlawanan kaum tani; Lugu, jujur, apa adanya.. adalah senjata orang kalah dan dimana mereka menggunakan kemampuan seadanya yang dimiliki tersebut untuk melawan penguasa.

    Pak Ladang merupakan representasi dari sosok petani yang kalah sebagaimana kebanyakan petani pada umumnya di Indonesia. Orang yang kalah dalam konteks negara adalah rakyat yang kehilangan hak-haknyanya untuk mendapatkan pekerjaan, kehilangan penghormatan terhadap petani yang memberikan pangan pada dunia, bahkan kehilangan hak dalam menyuarakan keluhan. Pak Ladang adalah salah satu dari sekian juta masyarakat di Indonesia yang mengalami situasi sosial dalam hal marginalisasi dan ketidakadilan yang kemudian ingin dilawannya.

    Read More »

    Hari Pangan Sedunia, API Gelar Aksi Teaterikal – Aliansi Petani Indonesia

    Jakarta, Kamis (16/10/2014). Disalah satu sudut kota yang tak pernah mati kesibukannya dibilangan jakarta-pusat menteng, tepatnya dipelataran Taman Ismail Marzuki (TIM), pelataran yang biasanya menjadi ajang keramaian anak-anak muda jakarta kini berubah menjadi suasana aksi pentas seni-budaya, yaitu berupa Aksi teaterikal, dengan belasan pemuda-pemuda yang memakai pakaian petani serba hitam-hitam, lengkap dengan caping dan cangkulnya, serta ratusan peserta massa aksi yang terlibat siang ini cukup menarik perhatian warga yang melintas.

    Aksi teaterikal yang mereka bawakan ini mengusung tema dalam “Memperingati Hari Pangan Sedunia” aksi aliansi ini terdiri dari: Aliansi Petani Indonesia (API) bersama beberapa organisasi lain seperti IGJ, FPPI, Solidaritas Perempuan, KRKP dan SNI mereka semuanya yang tergabung dalam Aliansi untuk Kedaulatan Pangan (AKAP).

    Aksi yang sedikitnya diikuti oleh seratus orang tersebut dimulai pukul 14.00 wib hingga 16.00 wib dengan beberapa orasi terkait isu pangan nasional, dimana petani belum mendapatkan posisi yang cukup layak dalam berbagai kebijakan pangan nasional. “Petani belum sejahtera. Hal ini terbukti dari data 10 tahun terakhir, dimana jumlah petani berkurang hingga 5,4 juta rumah tangga petani dalam rentang waktu 2003-2013. Sebaliknya jumlah korporasi yang bergerak di bidang pertanian melonjak sangat signifikan”, ungkap Loji dalam orasi pembukaan aksi.

    “Hal ini sangat memprihatinkan, karena ketahanan pangan tanpa kedaulatan atas berbagai sumberdaya pertanian oleh petani dari hulu sampai hilir akan mengakibatkan peran serta petani tetap terpinggirkan. padahal para petanilah yang memiliki dan selama ini mengkapitalisasi berbagai pengetahuan dan pengalaman hingga terbentuk struktur budaya petani dalam pola hubungan produksi yang pro-ekologi dan keberlanjutan lingkungan”, lanjutnya.

    Keadaan dan pola hubungan yang saling menjaga antara petani dan alam dalam proses produksi tersebut dilukiskan dalam babak awal aksi teaterikal. Sejumlah petani yang diperankan oleh delapan orang tampak beraktifitas layaknya di sawah. Mereka mencangkul, menyemai, mengisi dan menjaga lumbung pangan. Keadaan tersebut didukung dengan simbolisasi keselarasan dengan sosok Dewi Sri dan anak ayam yang membayangi lumbung pangan.

    “Namun demikian keadaan menjadi berubah ketika berbagai kebijakan baik nasional maupun internasional mulai “menyatroni” para petani dan lumbungnya. Berbagai kebijakan terkait pertanian dan pangan banyak meminggirkan dan tidak memberikan ruang leluasa bagi petani untuk meningkatkan pendapatan. Berbagai kasus agraria makin memperkecil akses petani kepada lahan produksi,” tandasnya.

    Berita Media:

    http://nasional.news.viva.co.id/news/read/548790-petani-minta-jokowi-hentikan-impor-benih

    http://www.didaktikaunj.com/2014/10/problematika-pangan-indonesia/

    Read More »

    API Hadiri Upacara Penutupan Tahun Internasional Pertanian Keluarga – Aliansi Petani Indonesia

    Pada 27 November 2014, delegasi Aliansi Petani Indonesia (API) yang diwakili oleh Farida C. Sitorus (Aliansi Petani Siantar Simalungun, APSS), Syukur Fahruddin (Koordinator API Jawa Tengah), dan Ika N. Krishnayanti (staf Hubungan Internasional) menghadiri undangan upacara penutupan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014 (International Year of Family Farming/IYFF) yang digelar di Hotel Dusit Thani, Manila, Filipina. Perhelatan global yang mengambil tema “Menutup Tahun Pertanian Keluarga, Membuka Jalan Ke Depan” itu disponsori oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO), Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (International Fund for Agricultural Development/IFAD) dan Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP).

    Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, di antaranya perwakilan FAO, IFAD, WFP, pemerintah dan senator Filipina, Dutabesar IYFF untuk Asia Pasifik dan Afrika, koordinator Panitia Pengarah International IYFF, World Rural Forum (WRF), para petani perwakilan organisasi petani dari Asian Farmers Association (AFA) dan La Via Campesina, dan berbagai organisasi masyarakat lainnya. API bersama organisasi dari 13 negara Asia lainnya hadir sebagai anggota AFA.

    Pada acara tersebut panggung dihiasi berbagai hasil pertanian di Filipina, seperti buah-buahan, tanaman pangan dan perkebunan, serta berbagai jenis sayuran. Penutupan Perayaan Tahun Internasional Pertanian Keluarga di tingkat global itu juga dimeriahkan berbagai kesenian dari berbagai suku yang ada di Filipina. Serangkaian kata sambutan dari beberapa perwakilan organisasi terkait silih berganti disampaikan di atas panggung.

    Read More »

    Audiensi dengan Fraksi PKB dengan Dewan Perwakilan Rakyat RI Terkait kasus tanah Indramayu oleh Serikat Tani Indramayu (STI) didampingi API

     

    Acara audiensi dengan Fraksi PKB oleh Serikat Tani Indramayu (STI) didampingi API terkait kasus sengketa atas lahan garapan mereka dengan Perum Perhutani Indramayu dilaksanakan pada tanggal 4 Februari 2014 di gedung Nusantara I DPR RI lantai 18, tepatnya di ruangan Wakil Ketua Komisi II DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Lukman Edy. Pada pertemuan yang dilakukan pada pukul 13.00 tersebut Lukman Edy hadir menemui perwakilan petani Serikat Tani Indramayu didampingi Ibu Luluk Nur hamidah dari Perempuan Kebangsaan, organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

     

    Dalam kesempatan tersebut juru bicara tim advokasi STI, Hamzah, menyampaikan harapan harapan para petani di kawasan basis Serikat Tani Indramayu agar ada penyelesaian terkait konflik lahan antara para petani dan Perum Perhutani.

     

    Sebagaimana telah disampaikan dalam surat yang telah dikirimkan oleh API ke pihak Fraksi PKB melalui fax sehari sebelumnya, STI terlibat dalam konflik dengan perum Perhutani terkait klaim atas lahan yang digarap oleh petani setempat dan diklaim sebagai milik Perum Perhutani seluas lebih dari 3000 hektar. Luasan lahan tersebut dikerjakan oleh 2.472 Orang petani dengan tanaman pokok padi di 24 basis STI di 7 desa. Berikut adalah tabel lahan yang disengketakan antara anggota STI dan Perum Perhutani:

     

     

    NAMA

    JUMLAH PENGGARAP

    JENIS LAHAN

    LUAS (Hektar)

    1

    Loyang

    71 Orang

    Tanaman padi

    100

    2

    Brungut

    37 Orang

    Tanaman padi

    32

    3

    Cagak Kroya

    229 Orang

    Tanaman padi

    321

    4

    Grabyagan

    200 Orang

    Tanaman padi

    300

    5

    Sesepan Jaya

    200 Orang

    Tanaman padi

    166

    6

    Cipondoh

    118 Orang

    Tanaman padi

    105

    7

    Kubang Jaran

    138 Orang

    Tanaman padi

    153

    8

    Kalen Tanjung

    63 Orang

    Tanaman padi

    63

     

    9

    Pasir Torok

    146 Orang

    Tanaman padi

    54

    10

    Sukajaya

    58 Orang

    Tanaman padi

    82

    11

    Tegal Harendong

    112 Orang

    Tanaman padi

    12

    12

    Lemah Rempag

    35 Orang

    Tanaman padi

    50

    13

    Cayut

    248 Orang

    Tanaman padi

    243

    14

    Sukaselamet

    150 Orang

    Tanaman padi

    300

    15

    Bojongraong

    30 Orang

    Tanaman padi

    50

    16

    Sandrem

    150 Orang

    Tanaman padi

    85

    17

    Cibenoang

    42 Orang

    Tanaman padi

    41

    18

    Plasah Koneng

    130 Orang

    Tanaman padi

    146

    19

    Karanganyar

    48 Orang

    Tanaman padi

    57

    20

    Tegal Biting

    70 Orang

    Tanaman padi

    200

    21

    Luwung Pendil

    70 Orang

    Tanaman padi

    150

    22

    Tegal Sapi

    69 Orang

    Tanaman padi

    75

    23

    Punduan

    175 Orang

    Tanaman padi

    217

    24

    Keprabon

    16 Orang

    Tanaman padi

    28

     

     

     

     

     

    Total

    2.472 Orang

     

    3030 Hektar

    Selain menyampaikan keinginan petani agar lahan tersebut dapat dikelola dan diberikan kepada petani, Hamzah juga menceritakan sejarah tanah di wilayah tersebut, dimana jauh sebelum konflik berkecamuk dan mengakibatkan beberapa petani dan aktivis dijebloskan ke penjara, masyarakat secara turun temurun sudah menempati dan menggarapnya. Meski tetap bertahan menggarap lahan-lahan tersebut, para petani juga masih membiarkan pihak perhutani memanen kayu putih yang ditanam di lahan mereka, tanpa mereka mendapatkan bagian dari hasil panen tersebut. Padahal pada masa awalnya, dijanjikan adanya sistem bagi hasil dimana petani juga mendapatkan keuntungan. Bahkan dimasa penanaman, para petanilah yang membeli benih dan menanam serta merawat kayu putih tersebut.

     

    Sejarah panjang itu bahkan sudah dimulai sejak pendudukan kolonialis Belanda di Indonesia dan mengalami pasang surut hingga era DI/TII, orde baru hingga sekarang. Argumentasi dan fakta kronologis keberadaan warga yang sudah turun temurun tinggal di wilayah tersebut diharapkan menjadi landasan kuat akan hak petani untuk mengelola tanah negara yang sudah dikerjakan selama berpuluh-puluh tahun.

     

    Dalam tanggapannya, Lukman Edy dari Fraksi PKB dan Wakil Komisi II menyampaikan dukungannya agar persoalan sengketa lahan dapat diselesaikan secara persuasif dan tidak mengorbankan petani. Hasil dari audiensi tersebut diharapkan juga dapat menjadi titik terang dan perlu dicari tahu dimana sebenarnya kawasan yang benar-benar dikuasai secara legal oleh perhutani. Dalam kaitan ini, STI diminta untuk mendapatkan peta lahan garapan petani secara lebih lengkap, termasuk koordinat batas penguasaan lahan oleh warga, sehingga akan memudahkan untuk melakukan check data lahan yang dikuasai oleh perum Perhutani.

     

    Fraksi PKB akan dapat membawa kasus ini ke sidang di Komisi II DPR RI jika STI dapat memberi bukti-bukti pendukung yang relevan dan peta penguasaan lahan yang akurat, sehingga dapat dikonfirmasi melalui Badan pertanahan Nasional (BPN). Lukman Edy juga menambahkan, jika pun terdapat lahan milik Perhutani yang sudah dikelola petani secara puluhan tahun, maka sebenarnya lahan tersebut dapat dimintakan sebagai tanah negara, dan selanjutnya diberikan kepemilikannya atau hak garapnya oleh negara kepada masyarakat atau petani, mengingat Perhutani adalah juga milik negara.

     

     

     

    Read More »