Penataan Produksi dan Usaha Tani – Aliansi Petani Indonesia

    [nggallery id=1]

    Lemahnya posisi tawar petani yang umumnya disebabkan oleh petani kurang mendapatkan dan memiliki akses terhadap pasar. Karenanya perlu mendorong pengembangan system pemasaran berbasis kelompok di tingkat petani dalam rangka meningkatkan rantai nilai. Lemahnya akses pasar disebabkan oleh kurangnya informasi pasar itu sendiri  serta sistem Ijon dalam rantai distribusi.  Selain akses pasar, petani umumnya kesulitan dalam hal akses permodalan.

    Oleh sebab itu penguatan posisi tawar petani melalui penguatan organisasi petani dan membangun system matarantai yang efisien dan adil antar pelaku diperlukan oleh organisasi petani. Hal itu bertujuan agar mereka dapat bersaing atau meningkatkan posisi tawar dan meningkatkan produktifitas serta kualitas produksi mereka. Dengan usaha pertaniannya itu, diharapkan dapat meningkatkan akses pasar dan kesejahteraan petani di pedesaan.

    Masalah yang terjadi di lima kabupaten anggota Api yang meliputi Lumajang, Jembrana, NTT, Boyolali dan Jambi adalah contoh tidak kuatnya dalam melakukan negosiasi harga hasil produksi, system tataniaga yang cenderung dimonopoli oleh tengkulak melalui system Ijon, rantai distribusi terlalu panjang dan tidak efisien, sehingga berdampak pada rendahnya harga produksi di tingkat petani.

    Selama ini informasi mengenai pasar banyak dimiliki oleh para tengkulak. Akibat minimnya informasi tersebut, Petani kesulitan menjual hasil panennya karena tidak punya jalur pemasaran sendiri, terpaksa petani menggunakan sistim tebang jual dan tergantung dengan tengkulak. Akibatnya sebanyak 40 % dari hasil penjualan panenan  menjadi milik tengkulak.

    Terkait dengan hal tesebut Aliansi Petani Indonesia menggelar acara  Evaluasi dan Perencanaan Program Penataan Produksi dan Usaha Tani, 12 sampai 14 Maret 2013. Acara yang bertempat di komplek Dinsos Malang tersebut, selain untuk melakukan “pembacaan ulang” atas seluruh proses dan mengukur tingkat keberhasilan di tahun sebelumnya, juga ditujukan untuk menyusun rancangan kerja yang didasarkan pada refleksi tersebut untuk dapat dilaksanakan di tahun mendatang. Kegiatan tersebut dihadiri sedikitnya 20 perwakilan dari lima kabupaten anggota Api yang meliputi petani padi organik (Boyolali), kakao (Jembarana dan NTT), pisang (Lumajang)dan duku (Jambi)[]Admin

    Read More »

    Miris, Harga Gabah Anjlok di Bawah HPP – Aliansi Petani Indonesia

    Seperti biasa, saat panen raya harga gabah langsung turun tajam, Inpres Harga Pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras  No 3 tahun 2012 belum efektif untuk mengatasi situasi melimpahnya produksi gabah disaat panen raya. Di lapangan, masih terjadi pembelian dibawah HPP.  Akhirnya, sebagaimana hukum ekonomi, harga pun turun drastis. Petani lagi-lagi dirugikan dengan situasi mata rantai beras yang tidak mendukung terpenuhinya sistem harga yang adil.

    Seperti  di beritakan oleh Republika.co.id (01/04/2013).— Harga gabah di wilayah eks Karesidenan Banyumas yang saat ini sedang mengalami masa panen raya anjlok hingga di bawah Harga Pedoman Pemerintah (HPP).Kondisi ini menyebabkan petani tidak mendapat keuntungan yang memadai. Saat ini gabah kering giling hanya dihargai Rp 3.900 per kg untuk jenis gabah yang pulen seperti IR 64. “Sedangkan untuk gabah jenis Logawa yang banyak ditanam petani, hanya dihargai Rp 3.700-Rp 3.800 per kg,” jelas Sardi (59), warga Desa Pegalongan Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas, Senin (1/4). Harga tersebut, menurutnya, sudah anjlok dibawah harga HPP Rp 4.200 per kg untuk harga gabah kering giling. Dia khawatir, harga  akan terus anjlok karena saat ini petani masih banyak yang panen. Dengan harga serendah itu, keuntungan yang diperoleh petani menjadi sangat minim. Hal ini karena untuk menanam padi, petani juga harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk membeli bibit, mengolah tanah, membeli pupuk dan obat-obatan.

    Source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/13/04/01/mkk419-garagara-bulog-harga-beras-anjlok

    Read More »

    Bangkitnya Buah Lokal Dan Secercah Senyum Petani – Aliansi Petani Indonesia

    Belakangan ini kita ikut gembira dengan bergairahnya buah lokal di pasaran sebagai dampak langsung dari kebijakan pelarangan impor buah. Di banyak tempat pasar-pasar tradisional sudah tidak dijejali buah-buahan impor yang serta merta menyebabkan harga buah lokal terpelanting dan tak mampu bersaing. Akibatnya para petani pun menjadi tidak pula bergairah untuk mengembangkan sektor ini secara lebih baik. Apalagi di saat masa panen tiba, over produksi menjadikan buah lokal ini makin terjerembab nasibnya.

    Tampilan buah impor yang rata-rata cantik dan menarik memang sering lebih tampak menggoda bagi pembeli dengan harga yang relatif tidak mahal. Selain itu jumlah produk impor jauh lebih banyak dari produk lokal. Tahun 2011 saja nilai buah impor yang masuk ke indonesia mencapai USD 700 juta. Bisa dibayangkan betapa negeri ini kebanjiran produk dari luar. Hal ini mau tidak mau akhirnya meminggirkan produk-produk lokal yang sebenarnya secara kualitas juga tidak kalah bagus. Perilaku dan kebijakan pasar yang ngajangi ombo (memberi ruang luas) akan beredarnya produk impor yang gila-gilaan tersebut pada gilirannya pula semakin mempersempit ruang gerak produk lokal. Dan sebagai implikasinya  produsen buah lokal pun tak bisa berkutik . Belum lagi mereka harus berhadapan dengan para tengkulak yang tentu masih mencari untung dari situasi yang sudah tidak menguntungkan tersebut.

    Pelarangan buah impor di berbagai pasar tradisional faktanya mampu mendongkrak pamor buah lokal secara signifikan, sebuah keadaan yang sudah selayaknya bisa menjadi cermin bagi perlindungan produk-produk dalam negeri untuk mampu bangkit demi ikut memutar roda ekonomi bangsa. Petani produsen akan menjadi semakin lega bernafas dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki mutu produk pada fase-fase selanjutnya.

    Ibarat sebuah pertandingngan tinju, pada ring yang bernama perdagangan bebas pasti akan mempertontonkan sebuah adegan pertarungan yang sungguh tidak seimbang, karena berbagai petinju dari berbagai level dan kelas yang berbeda bertemu di sana. Yang terjadi selanjutnya bisa dibayangkan. Alih-alih sebuah kompetisi yang sehat, yang terjadi adalah jelas-jelas pembantaian sadis.

    Begitu pula misalnya apabila apel Malang harus vis a vis dengan apel New Zealand di atas ring dengan mengatas-namakan free market. Tanpa aturan main yang proporsional apel Malang akan bonyok bin babak belur di pasaran dan makin lama makin terpuruk. Akibatnya petani apel Malang juga tidak akan makin bergairah dan hanya pasrah terhadap nasib malang yang musti ditanggungnya. Dus, sementara produk-produk lokal terjungkal di pasaran dan para produsennya meringis kesakitan, di saat yang sama para importir bertepuk tangan, pemerintah melenggang merasa tidak bersalah. Terus dimana letak fair trade-nya?

    Sampai saat ini, meski sudah tidak banyak beredar di pasar tradisional, produk-produk buah impor masih dapat ditemui di supermarket-supermarket yang disupplay langsung oleh para importir yang sudah memiliki kontrak dengan jaringan pasar modern. Tentu kita berharap apa yang terjadi di pasar tradisional tersebut juga akan dapat “menular” ke pasar-pasar modern itu. Sehingga dengan demikian  bukan saja buah lokal akan mampu berdaulat di negerinya sendiri, namun juga makin siap untuk benar-benar bertarung di “ring” yang sehat dan menjadi semakin “mungkin” untuk bergerak secara lebih leluasa, bahkan hingga mampu nyebrang menantang buah-buah dari benua yang lain.

    Dengan terkondisikannya ruang gerak seperti ini, yang diuntungkan bukan saja akan pemerintah dan konsumen pada umumnya, tapi tentu juga petani yang karenanya menjadi makin termotivasi untuk mengembangkan sektor buah sebagai sandaran hidup yang layak bagi mereka. Sebaliknya, dengan “berkuasanya” buah impor yang paling diuntungkan tak lain adalah segelintir orang yang mampu menjadi jembatan bagi masuknya produk-produk luar negeri (importir). Sementara produsen (petani) adalah korban tak berdaya yang akan menelan kenyataan pahit dari kelaliman pasar yang “direstui” oleh pemerintahnya sendiri.

    Semoga keadaan seperti ini benar-benar mampu dikawal dengan serius oleh pemerintah sehingga akan dapat memberi manfaat yang seluas-luasnya untuk bukan saja memperbaiki tingkat produksi petani dan menguntungkan pengusaha lokal, namun juga akan mampu membuka lapangan kerja yang besar bagi rakyat Indonesia, hal mana juga kita harapkan dapat terjadi pada sektor-sektor yang lain. [Lodzi]

    Read More »

    Fields of Gold – behind the scenes – Aliansi Petani Indonesia

    [nggallery id=3]

    Fields of Gold adalah judul sebuah lagu yang dipopulerkan Sting. dalam video ini dijadikan sountrack dari video “behind the scenes” pembuatan video dokumenter tentang tata produksi beras organik oleh tim reporter dari Agriculture and Rural TV Channel 3NTV-VTC16, Vietnam.

    3NTV-VTC adalah sebuah stasiun televisi nasional Vietnam yang secara khusus menayangkan program-program terkait pertanian dan pedesaan. Mereka datang melawat ke Seknas Aliansi Petani Indonesia (API) untuk melakukan peliputan terkait rantai produksi dan agroekologi berbasis sudut pandang petani di basis anggota API di daerah Boyolali dan Banjarnegara.

    Proses peliputan tersebut dimulai dari kantor Appoli, Boyolali, Jawa tengah. Dalam perjalanan menuju lokasi berbagai aktivitas petani yang berada di sawah beberapa kali sempat dihampiri oleh kru dan wartawan dengan ditemani beberapa pengurus Seknas.

    Pengambilan scene dimulai dari saat panen dilakukan, pembuatan pupuk organik, pengkemasan hingga penjualan. Hasil dari liputan itu sendiri sudah ditayangkan pada 18 Mei 2013 di stasiun tv tersebut. penayangan dokumenter tersebut bertujuan untuk memberi gambaran keberhasilan salah satu petani di Indonesia dalam menjaga kualitas produksi, penataan produksi dan marketing, hal mana diharapkan menjadi inspirasi bagi petani, khususnya di Asia, untuk semakin meningkatkan kapasitasnya.

     

    Read More »

    Meningkatkan Kekuatan Pasar Petani – Aliansi Petani Indonesia

    Sistem pertanian pangan dunia mengalami restruktirisasi dengan cepat. Sementara sampai batas tertentu perkembangan ini membuka peluang pasar untuk petani kecil, keadaan yang ada menunjukkan pula bahwa para petani masih bergantung pada tengkulak dan menyerap keuntungan yang sangat minim. Respon atas situasi tersebut mendorong dibangunnya sebuah upaya pola ekonomi yang lebih efisien, mampu menempatkan petani pada keadaan yang tidak cenderung merugi dan melulu berada pada posisi lemah. Dalam kaitan ini memotong rantai distribusi merupakan usaha yang layak didesakkan untuk memberi income lebih bagi petani kecil, misalnya dengan membangun koperasi dan menerapkan model pemasaran kolektif.

    Sejalan dengan hal tersebut the Asian Farmers’ Association for Sustainable Rural Development (AFA), bekerjasama dengan salah satu anggotanya di Philippina, the National Confederation of Small-scale Farmers and Fishers’ Organization (PAKISAMA), menyelenggarakan workshop tingkat regional selama tiga hari dengan mengambil tema “Enhancing Farmers’ Market Power” pada 9-11 Mei, 2013 di SuloRiviera Hotel, Matalino Road, Diliman, Quezon City, Philippines.

    Kegiatan yang merupakan rangkaian Execom Meeting tersebut diikuti oleh seluruh anggota AFA seperti dari Indonesia (API), Korea (KAFF dan WAFF), Kamboja (FNN), Vietnam (VNFU), Banglades (KKM), Nepal (NLRF), Laos (belum anggota). Thailand (Sorkorpor), Taiwan (TWADA) dan Philipina (Pakisama). Hadir sebagai nara sumber dalam workshop tersebut  kalangan pengusaha, konsultan, pemerintah serta NGO. Terdapat tiga hal yang diharapkan mampu dicapai dalam workshop tersebut, yakni Pertama, menjadi tempat untuk sharing dan pembelajaran bersama untuk mencari model yang efektif bagi upaya menghubungkan petani kecil dengan pasar untuk memperkuat akses pasar bagi petani. Kedua, mendiskusikan pilihan-pilihan strategis dan rekomendasi berbagai lembaga baik di tingkat nasional, regional maupun internasional. Ketiga, Mengidentifikasi tindakan-tindakan umum dalam rangka mempromosikan model investasi pertanian yang lebih inklusif.

    Workshop regional tersebut juga mengagendakan acara field visit ke sebuah koperasi dan pusat penjualan kopi di daerah pedesaan jauh di luar kota Manila. Seusai rangkaian workshop dan kunjungan lapang, acara kemudian dilanjutkan dengan Execom Meeting yang merupakan event regular AFA untuk mempertemukan seluruh anggota dan pengurusnya di tingkat regional (Asia). Salah satu agenda dalam kegiatan tersebut adalah laporan aktifitas dan keuangan organisasi serta perumusan berbagai strategi perjuangan petani, baik pada skala regional dan internasional.

    Selain semakin memantapkan diri sebagai organisasi petani tingkat regional yang menjunjung tinggi nilai-nilai solidaritas dan sharing pengetahuan dan pengalaman antar anggotanya, AFA juga berupaya untuk muncul sebagai kekuatan konsolidator organisasi petani tingkat Asia yang diharapkan mampu memberi kontribusi penting bagi penguatan nilai tawar petani dalam memperjuangkan hak-hak sosial-ekonominya.  []Lodzi

    [nggallery id=4]

    Read More »

    Kinerja Bulog Tidak Efektif, Cabut Inpres No 3 Tahun 2012 – Aliansi Petani Indonesia

    Berikut ini Pandangan Sikap Aliansi Petani Indonesia (API) terkait efektifitas kinerja Bulog hingga Mei 2013

     Fakta-Fakta Lapangan :

    1. Pada saat panen raya Maret-April, ditemukan di berbagai daerah Harga Petani di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), hasil  Temuan kami di Banyumas harga gabah kering panen (GKP) hanya Rp 2.900, di Brebes sebesar Rp 2.700, di Nagakeo NTT hanya Rp 2.600.
    2. Di sisi lain, Sampai saat ini penyerapan Bulog di berbagai daerah masih jauh dari harapan, hasil temuan kami di Malang sampai dengan pekan ke dua April 2013 masih 42% dari target, di Klaten Gudang Bulog baru berhasil melakukan pengadaan 4.000 ton beras, hingga akhir April 2013. Angka tersebut masih cukup jauh dari target pengadaan yang ditetapkan yakni sebesar 6.000 ton beras.
    3. Harga beras di berbagai daerah sentra beras seperti Tuban, Bojonegoro, Tegal, Semarang, Indramayu sudah diatas Harga Pembelian Pemerintah (Rp 6.600/kg). Harga di lapangan hari ini diatas Rp 7.000/kg.

    Berangkat dari 3 fakta diatas Aliansi Petani Indonesia menyimpulkan :

    1. Kinerja Bulog hingga awal mei ini sangat tidak efektif. Seharusnya Bulog melakukan penyerapan besar-besaran di saat panen raya, tetapi justru banyak ditemukan harga gabah di bawah HPP. HPP saat ini sesuai Inpres No 3 tahun 2012 adalah untuk Gabah Kering Panen (GKP)Sebesar Rp 3.350, Gabah Kering Giling (GKG) sebesar Rp 4.200, dan beras sebesar Rp 6.600.
    2. Jika membandingkan dengan tahun 2012, maka penyerapan bulog per mei 2013 jauh lebih sedikit. Hal ini dikarenakan tidak adanya kebijakan  kenaikan HPP tahun 2013 ini. Pemerintah masih menggunakan inpres no 3 tahun 2012. Sementara harga beras terus meningkat akibat beaya produksi yang meningkat dan sangat dimungkinkan para “spekulan beras”  yang menahan harga beras tetap tinggi di level konsumen.
    3. Adanya harga beras yang tinggi di level konsumen tidak berarti menguntungkan petani, hal ini dibuktikan dengan di berbagai daerah sentra beras petani menjual di bawah HPP. Harga beras yang tinggi di level konsumen jelas menguntungkan para “spekulan beras”. Mereka menikmati keuntungan dengan membeli harga rendah pada saat panen raya sementara menjual ke konsumen dengan harga yang tinggi.

    Membaca situasi ini maka Aliansi Petani Indonesia, kami menuntut pemerintah (Presiden RI) untuk :

    1. Mencabut Inpres No 3 Tahun 2012, Inpres ini tidak efektif untuk melindungi harga petani. Meningkatnya beaya produksi petani dan harga-harga kebutuhan lainnya menyebabkan penentuan HPP sesuai inpres ini terlalu rendah dan sangat merugikan 15 juta keluarga petani padi di Indonesia.
    2. Pemerintah harus merubah paradigma HPP tunggal (hanya membeli satu kualitas medium saja) dan diganti dengan menerapkan HPP multikualitas, dimana faktanya para petani memproduksi gabah dengan berbagai macam kualitas. Di pasaran juga konsumen membeli beras dengan berbagai macam kualitas. Sebagai perbandingan, di seluruh negara sentra beras, seperti thailand, vietnam, India dan Bangladesh, mereka sudah menerapkan kebijkan HPP multikualitas yang mampu melindungi petani.
    3. Segera melakukan evaluasi terhadap kinerja Bulog, mengingat harga beras saat ini sudah tinggi, kami yakin jika tidak segera dilakukan penyerapan besar-besaran oleh Bulog, maka pada saat momentum puasa, lebaran, natal dan tahun baru ( Juli-Desember 2013), harga beras akan melonjak hingga Rp 10.000. Apalagi, jika kenaikan Harga BBM dilaksanakan, maka harga beras akan tidak terkendali. Hal ini jelas-jelas akan menguntungkan para spekulan beras dan merugikan petani dan konsumen di Indonesia.

     

    Jakarta, 13 Mei 2013

    Read More »

    Ekspor Perdana Beras Organik APPOLI – Aliansi Petani Indonesia

    Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI) berhasil melakukan ekspor padi organik. Ekspor perdana kelompok petani di daerah Boyolali, Jawa Tengah ke Belgia tersebut dilaksanakan pada awal bulan Mei dan segera disusul kemudian ke Jerman pada akhir Juli serta berlanjut ke beberapa negara lain.

    Beras organik yang diekspor ke Belgia dan negara lainnya telah mendapat sertifikasi dari IMO Swiss untuk beberapa standar, yaitu Organik Eropa, Japan Agriculture Standards (JAS), Sertifikasi organik Amerika Serikat (USDA) dan Fair-trade mulai tahun 2012. APPOLI sendiri melakukan kerjasama dengan PT. Bloom Agro dalam memasarkan beras organiknya di pasar internasional.

    Keberhasilan Appoli mengekspor beras organik tidak lepas dari kerja keras organisasi petani ini membangun Internal Control System (ICS) organik di kelompoknya. Saat ini Appoli memiliki tiga kelompok tani tersertifikasi internasional dan akan menambah tiga lagi untuk sertifikasi nasional (SNI). Appoli melakukan ICS sejak tahun 2010 dan saat ini sudah ada 18 kelompok tani yang menerapkan ICS. Karena keterbatasan dana, sertifikasi dilakukan bertahap.

    Dalam penerapan ICS dan proses sertifikasi, Appoli mendapat bantuan teknis dari Lembaga Studi Kemasyarakatan dan Bina Bakat (LSKBB) sebagai pendukung di lapangan. Sementara pihak pemerintah daerah Kabupaten Boyolali juga berperan besar, karena semua kegiatan selalu berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Boyolali. Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Boyolali dan di tingkat provinsi banyak membantu dalam kegiatan sertifikasi.

    Pelaksanaan ekspor perdana beras organik Appoli pada 10 Mei 2013 dihadiri Bupati Boyolali Seno Samudro, DPRD Boyolali, perwakilan kelompok tani, Perwakilan Regional VECO Indonesia dan PT. Bloom Agro.

    Dalam sambutannya, Bupati Boyolali mengatakan supaya Appoli tetap menjaga mutu produksinya supaya terus bisa mengekspor beras organik. Ekspor ini, menurut bupati, menjadi kebanggan Kabupaten Boyolali. “Pemda Boyolali siap mendukung usaha petani untuk maju dalam pengembangan usaha tani dan siap mendukung sertifikasi beras organik di seluruh kabupaten Boyolali,” kata Bupati.

    Sementara Perwakilan Regional VECO Indonesia menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Appoli adalah kerja keras petani. Appoli telah mengembangkan manajemen bisnis modern. Semua ini tidak terlepas dari kerja sama semua pihak, baik dari LSKBB yang mendukung pengembangan di lapangan dan pemerintah daerah yang selalu aktif membantu petani.

    Emily Soetanto dari PT. Bloom Agro sangat mendukung organisasi petani seperti Appoli untuk maju dalam bisnis. Kerja sama antara APPOLI dan PT. Bloom Agro adalah kerja sama jangka panjang. PT. Bloom Agro menjanjikan akan mengirim 8 kontainer dari Appoli tahun ini dan tahun selanjutnya akan meningkat semakin banyak.

    Tentu saja petani mendapat keuntungan dari proses ini. Di tingkat petani, mereka yang sudah tersertifikasi dan masuk dalam Approved Farmers’ List (AFL) berhak menjual beras organik ke Appoli. Hasil panen (GKP) mereka akan langsung ditimbang dan dibayar dengan harga jauh di atas harga pasar ketika masuk gudang Appoli. Selanjutnya Appoli akan melakukan prosesing sampai dengan pengemasan beras organik tersebut.

    Petani merasa senang karena terlepas dari sistem ijon dan hasil panen langsung dibayar oleh Appoli. Sedangkan untuk Appoli proses ini menjadi penting sebagai usaha bisnis yang memberikan keuntungan lebih besar bagi anggotanya.

    Source: http://www.veco-ngo.org

    Read More »

    Tuntut Lahan, Petani Menginap di DPRD – Aliansi Petani Indonesia

    Sindonews.com – Ratusan petani yang menamakan diri Aliansi Petani Penggarap Menggugat (APPM) nekat menduduki gedung DPRD Kabupaten Blitar. Mereka menuntut redistribusi 212 hektare perkebunan Sengon di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur segera dilakukan.

    “Kami tidak akan angkat kaki sebelum apa yang menjadi hak rakyat diberikan,“ ujar Koordinatot aksi Moh Triyanto kepada wartawan, Senin (20/5/2013).

    Saat malam datang, para petani memilih menyingkir sementara. Dan mereka kembali mengerumuni gedung rakyat ketika pagi menjelang.

    “Ini untuk menyiasati pengusiran petugas. Kita duduki gedung dewan setiap jam kerja,“ terang Triyanto.
     
    Petani menagih janji hasil rapat  panitia khusus DPRD No 170/694/423.040/2001 yang isinya menyatakan dokumen Hak Guna Usaha yang dikeluarkan Pemkab di perkebunan Sengon cacat hukum. Karenanya tanah harus kembali ke negara dan dibagikan kepada rakyat.

    Rekomendasi itu diperkuat oleh SK Bupati No 590/119/409.011/2002 yang intinya tentang usulan pembatalan HGU. Namun faktanya, ketentuan hukum itu hanya menjadi macan kertas belaka. Perkebunan masih sepenuhnya dikuasai para pemilik modal.

    “Karenanya kami akan terus berjuang, bertahan disini sampai apa yang menjadi hak rakyat diberikan,“ tegas Triyanto.

    Tawaran legislatif untuk mengajak dengar pendapat ditolak oleh petani. Sebab dalam pertemuan tersebut dewan tidak menghadirkan para pihak terkait.

    Menanggapi hal itu Sekretaris Komisi I DPRD Kabupaten Blitar Candra Purnama berjanji akan mengagendakan ulang pertemuan dengan para pihak terkait. Saat ini, kata Candra dewan dalam kondisi terkendala reses. (ysw)

    Read More »

    Api & TWN Gelar Southeast Asian Agroecology Course – Aliansi Petani Indonesia

    Tantangan dan trend dalam ketahanan pangan dan perubahan iklim sangat besar, dan agroekologi semakin diakui sebagai masa depan. Agroekologi yang menggunakan konsep ekologi dan prinsip untuk mendesain dan mengelola sistem pertanian berkelanjutan telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, dan memiliki potensi jauh lebih besar dalam mengatasi kelaparan, terutama pada masa ekonomi dan iklim yang tidak menentu.

    Menyadari perlunya pengembangan kapasitas dalam agroekologi di kawasan ini, TWN and API akan mengadakan pelatihan untuk melengkapi aktor-aktor kunci dengan pemahaman yang komprehensive mengenai agroekologi, prinsip-prinsip dan bukti-bukti yang ada. Hadir sebagai narasumbernya adalah Profesor Miguel Altieri dan Dr. Clara Nicholls, dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Mereka dikenal sebagai pionir dan ahli dalam agroekologi serta telah mempublikasikan banyak tulisannya berkaitan dengan hal tersebut.

    Pelatihan akan mencakup tema-tema seperti berikut ini:

    • Agroekologi dan planet pangan, energy, ekonomi dan krisis social (Agroecology and the planetary food, energy, economic and social crisis)
    • Prinsip dan konsep agroekologi: basis ilmiah (Principles and concepts of agroecology: the scientific basis)
    • Peranan agroekologi dalam keragaman di agro ekosistem (The ecological role of biodiversity in agroecosystems)
    • Keragaman hayati dan manajemen hama (Biodiversity and insect pest management)
    • Ekologi dan manajemen tanah (Soil ecology and management)
    • Kerangka ekologi dalam penyakit dan hama tanaman (Ecological basis of disease and weed management)
    • Alasan-alasan ekologi untuk mengkonversi ke pertanian organik (Agroecological basis for the conversion to organic farming)
    • Agroekologi, perkembangan pertanian skala kecil dan kedaulatan pangan (Agroecology, small farm development and food sovereignty)
    • Agroekologi dan ketahanan pada perubahan iklim (Agroecology and resiliency to climate change)

    Pelatihan bertema Southeast Asian Agroecology Training Course yang rencananya digelar di Solo pada 5-9 Mei tersebut juga akan dilengkapi dengan kunjungan ke lapangan yang rencananya akan mengambil tempat di salah satu anggota Api di Boyolali (APPOLI-Aliansi Petani Padi Organik Boyolali) untuk melihat pertanian agroekologi. Pelatihan ini akan diikuti oleh peserta yang bekerja dalam isu terkait agroekologi sebanyak sekitar 46 orang, 18 diantaranya adalah dari beberapa Negara-negara Asia Tenggara.

    Read More »